Pemandangan umum hutan Amazon di Pulau Cotijuba, Belem, Negara Bagian Para, Brasil, pada 13 November 2025.(Pablo PORCIUNCULA/AFP)
PEMIMPIN masyarakat adat sekaligus pembela lingkungan Americo Pascuala Tomisha ditembak mati ketika melakukan patroli di wilayah adatnya di kawasan Amazon, Peru, pihak berwenang melaporkan pada Selasa (25/8). Kasus tersebut kini diselidiki sebagai pembunuhan oleh aparat penegak hukum setempat.
Pascuala, 57, merupakan anggota komunitas Asheninka. Ia tewas pada Minggu (23/8) di wilayah Ucayali, Peru, yang berbatasan dengan Brasil. Kawasan tersebut sebelumnya juga menjadi lokasi tewasnya sejumlah pembela lingkungan.
Kementerian Kebudayaan Peru mengecam kematian Pascuala. Jaksa nasional juga telah membuka penyelidikan atas dugaan pembunuhan terhadap pemimpin adat tersebut.
Organisasi ORAU, yang mewakili sejumlah kelompok masyarakat adat di wilayah tersebut, menyatakan Pascuala terkena tembakan yang diduga dilakukan oleh pihak luar yang mengambil minyak copaiba dari pepohonan di wilayah adat.
Menurut ORAU, Pascuala telah melaporkan keberadaan pihak-pihak yang tidak dikenal tersebut di tanah leluhurnya sejak 2020.
Wakil Presiden ORAU Herlin Odicio mengecam pembunuhan tersebut dan meminta kasus itu ditindak secara hukum.
"Pembunuhan pengecut ini sangat tercela. Apa yang terjadi di Amazon kita tidak boleh dibiarkan tanpa hukuman," kata Odicio dalam konferensi pers.
Kasus Pascuala menambah daftar panjang pembela lingkungan dan hak masyarakat adat di Amerika Latin yang menghadapi ancaman akibat aktivitas advokasi mereka. Para aktivis kerap menjadi sasaran setelah mengungkap dugaan kejahatan lingkungan, termasuk deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam di wilayah adat.
Di Peru, penegakan hukum terhadap pembunuhan pembela lingkungan juga masih menjadi perhatian. Pada Senin (24/8), pengadilan Peru menjatuhkan hukuman kepada empat orang yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan Quinto Inuma pada 2023.
Inuma merupakan pemimpin masyarakat adat Kichwa yang dikenal sebagai salah satu pembela lingkungan di wilayah Amazon San Martin. Pembunuhannya menjadi salah satu kasus yang mendapat perhatian luas terkait ancaman terhadap pemimpin masyarakat adat di Peru.
Menurut organisasi nonpemerintah Global Witness, sedikitnya 62 pembela tanah dan lingkungan dibunuh di Peru sepanjang 2012-2024. Lebih dari separuh korban merupakan anggota komunitas masyarakat adat.
Di kawasan Amazon, konflik kerap berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam, pembalakan, deforestasi, serta aktivitas ekonomi lainnya yang berlangsung di wilayah adat. (AFP/B-3)









































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)








