Misi Sentinel-1 ESA berhasil mengabadikan gambar luar biasa yang menunjukkan hilangnya es dan runtuhnya bongkahan es yang signifikan di Gletser Petermann.(ESA)
CITRA satelit terbaru menangkap momen mengkhawatirkan dari perubahan lanskap Arktik. Misi Copernicus Sentinel-1 milik Badan Antariksa Eropa (ESA) merekam runtuhnya bagian signifikan dari lidah es mengapung di Beting Petermann (Petermann Glacier), barat laut Greenland. Peristiwa ini menandai kehilangan es mengapung paling dramatis di lokasi tersebut sejak 2012, sekaligus menjadi insiden pelepasan es (calving) terbesar di Arktik sejak 2020.
Beting Petermann berfungsi sebagai penghubung penting antara Lapisan Es Greenland (Greenland ice sheet) dengan Samudra Arktik. Sebelumnya, lidah es mengapung milik beting ini membentang sepanjang kira-kira 70 kilometer dengan lebar mencapai 15 kilometer. Namun, pemantauan satelit pada 4 Agustus 2026 mengonfirmasi retakan besar pada struktur tersebut telah membuat area es seluas 76 kilometer persegi terlepas dan hanyut menjadi pulau es.
"Misi satelit seperti Sentinel-1 menyediakan pengamatan sistematis dan jangka panjang yang diperlukan untuk melacak perubahan ini," kata Martin Wearing, ilmuwan Bumi di ESA. "Data ini membantu para ilmuwan memahami secara lebih baik proses-proses yang memicu pelepasan es serta dampaknya yang lebih luas terhadap lingkungan kutub, dan pada akhirnya sistem Bumi secara keseluruhan."
Fenomena pecahnya es mengapung ini tidak terjadi secara mendadak. Pengamatan jarak jauh terus memantau retakan yang berkembang di sepanjang garis tengah lidah es Beting Petermann sebelum akhirnya bagian timur dari beting tersebut terpisah sepenuhnya. Pemanasan suhu laut yang kian meningkat menjadi salah satu faktor utama yang terus mengikis lapisan es Arktik dari bawah. Ketika es ini mencair dan lepas ke lautan, proses tersebut memberikan kontribusi langsung terhadap kenaikan permukaan air laut global.
Ahli glasiologi dari University of Stirling, Anna Crawford, menjelaskan pentingnya mempelajari pembentukan pulau-pulau es di wilayah Arktik yang terbilang cukup jarang terjadi jika dibandingkan dengan Antarktika.
"Dengan mempelajari pulau-pulau es Arktik, kita akan memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan di seluruh wilayah kutub," ujar Crawford. Menurutnya, hal tersebut sangat krusial untuk memahami bagaimana pelepasan dan penurunan kualitas pulau es memengaruhi dinamika beting es, kenaikan permukaan laut, dan lingkungan samudra.
Peristiwa pelepasan es seluas 76 kilometer persegi ini diperkirakan bukan yang terakhir. Berdasarkan analisis retakan yang ada, para ilmuwan memperkirakan potensi terbentuknya pulau es besar berikutnya di Beting Petermann seiring berlanjutnya propagasi retakan di sepanjang lidah es tersebut. Pemantauan berkelanjutan dari luar angkasa menjadi kunci utama bagi para peneliti untuk mengantisipasi laju perubahan iklim dan dampaknya terhadap lanskap bumi. (Space/Z-2)











































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)





