20 Tahun Reklasifikasi Pluto: Haruskah Julukan Planet Kembali Disematkan?

3 hours ago 1
 Haruskah Julukan Planet Kembali Disematkan? Apakah Pluto benar-benar sebuah planet?(NASA/JHUAPL/SwRI)

DUA dekade telah berlalu sejak Persatuan Astronomi Internasional (IAU) meresmikannya sebagai planet katai pada Agustus 2006. Keputusan bersejarah tersebut menurunkan Pluto dari daftar sembilan planet utama Tata Surya. Meski telah berstatus planet katai selama 20 tahun, perdebatan mengenai layak tidaknya Pluto menyandang kembali gelar planet belum surut di kalangan komunitas ilmiah.

Puncak kontroversi penentuan status Pluto bermula dari penemuan Eris pada Juli 2005. Benda langit tersebut memiliki ukuran yang hampir serupa dengan Pluto dan berjarak lebih jauh dari Matahari. Penemuan ini memaksa para astronom menjawab pertanyaan mendasar, jika Eris bukan planet, bagaimana mungkin Pluto mempertahankan gelar tersebut?

Atas dasar pertimbangan tersebut, IAU menetapkan definisi resmi planet melalui tiga kriteria utama. Pertama, objek harus mengorbit Matahari. Kedua, objek memiliki massa yang cukup sehingga gravitasinya membentuk tubuh mendekati bulat. Ketiga, objek harus telah membersihkan lingkungan di sekitar orbitnya dari benda-benda lain. Pluto memenuhi dua kriteria pertama, tetapi gagal pada kriteria ketiga karena orbitnya bersinggungan dengan orbit Neptunus serta dikelilingi objek-objek Sabuk Kuiper.

Namun, kriteria pembersihan orbit tersebut terus memicu kritik mendalam dari sejumlah ilmuwan. Peneliti dan astronom planet dari University of Washington di St. Louis, Paul Byrne, menilai klasifikasi tersebut merugikan penyampaian sains kepada publik.

"Ya, Pluto adalah sebuah planet," kata Byrne kepada Space.com.

Byrne berpendapat bahwa status planet juga layak diberikan kepada planet katai lainnya, seperti Ceres, Eris, Makemake, dan Haumea. Menurutnya, batasan definisi saat ini menciptakan hambatan dalam komunikasi ilmiah.

"Pada akhirnya saya pikir mereka semua adalah planet dan saya tidak melihat adanya manfaat dari tidak memasukkan Pluto sebagai planet," tutur Byrne.

Ia menjelaskan bahwa ketika memberikan kuliah umum mengenai planet, publik sering kali lebih berfokus menanyakan alasan penurunan status Pluto ketimbang membahas fitur geologisnya yang luar biasa, seperti gletser nitrogen aktif atau formasi raksasa berbentuk hati di permukaannya.

"Kami telah melakukan keburukan besar bagi publik dari perspektif komunikasi sains," ujar Byrne. "Penyampaian pesan tersebut telah menghalangi upaya untuk memahami apa itu Pluto."

Salah satu pertimbangan IAU pada 2006 adalah kekhawatiran mengenai munculnya ratusan objek baru berukuran mirip Pluto dan Eris di wilayah Piringan Tersebar (Scattered Disk) dan Awan Oort. Menambah ratusan nama planet dianggap akan menyulitkan.

"Salah satu masalah yang diangkat orang-orang adalah, bagaimana anak-anak bisa mengingat nama 200 planet?" kata Byrne. "Namun lihat saja berapa banyak Pokémon yang namanya diketahui oleh anak-anak. Jika pada akhirnya ada 200 planet di Tata Surya, lalu kenapa?"

Perdebatan ini mencerminkan kompleksitas penentuan kriteria benda langit dalam astronomi modern. Sebagian astronom menganggap Pluto lebih baik mempertahankan status planet katai sebagai representasi utama dari kelompoknya. Meski demikian, desakan untuk meninjau kembali kriteria IAU terus mengemuka seiring berkembangnya pemahaman sains tentang sistem planet. (Space/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |