Gambar Pluto ini diambil oleh Long Range Reconnaissance Imager (LORRI) New Horizons pada pagi hari tanggal 13 Juli 2015.(NASA)
SUDAH dua dekade berlalu sejak Persatuan Astronomi Internasional (IAU) menurunkan status Pluto dari planet utama menjadi planet katai pada Agustus 2006. Meski keputusan ilmiah tersebut telah bertahan selama 20 tahun, gelombang penolakan dari masyarakat umum masih terus bergema. Keputusan ini tetap menjadi salah satu perdebatan paling emosional dalam sejarah ilmu pengetahuan modern.
Penolakan publik yang begitu kuat sebagian besar dipicu oleh ikatan emosional dan nostalgia. Bagi jutaan orang di seluruh dunia, Pluto adalah bagian dari pelajaran sekolah dasar yang mengajarkan sembilan planet di Tata Surya. Sebagai planet terkecil dan paling terpencil, Pluto juga sering diposisikan sebagai figur "underdog" dalam narasi populer, sehingga penurunan statusnya dirasakan sebagai sebuah ketidakadilan.
Namun, bagi para astronom, keputusan untuk meredefinisi status Pluto murni didasarkan pada penemuan-penemuan baru di luar angkasa. Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, para ilmuwan menemukan banyak objek es berukuran besar di Sabuk Kuiper, wilayah di luar orbit Neptunus tempat Pluto berada.
Puncaknya terjadi pada Juli 2005 dengan ditemukannya Eris, sebuah benda langit yang memiliki massa lebih besar dari Pluto. Penemuan ini menghadapkan para astronom pada dua pilihan, menambah puluhan planet baru ke dalam Tata Surya atau memperketat definisi ilmiah tentang apa yang dimaksud dengan planet.
Untuk menyelesaikan dilema tersebut, IAU menetapkan tiga kriteria utama untuk sebuah planet. Pertama, objek harus mengorbit Matahari. Kedua, objek memiliki massa yang cukup sehingga gravitasinya membentuk tubuh mendekati bulat. Ketiga, objek harus telah membersihkan lingkungan di sekitar orbitnya dari benda-benda langit lain.
Pluto dengan mudah memenuhi dua kriteria pertama. Namun, ia gagal pada kriteria ketiga karena orbitnya dikelilingi oleh ribuan objek lain di Sabuk Kuiper, serta kerap bersinggungan dengan jalur orbit Neptunus. Atas dasar itulah Pluto diklasifikasikan ulang sebagai planet katai (dwarf planet).
Meskipun status resminya berubah, penurunan ini sama sekali tidak mengurangi nilai penting Pluto dalam eksplorasi antariksa. Misi wahana antariksa New Horizons milik NASA yang melintasi Pluto pada 2015 justru mengungkap dunia yang luar biasa aktif secara geologis. Para ilmuwan menemukan pegunungan es batu, gletser nitrogen yang mengalir, hingga indikasi adanya samudra di bawah permukaannya.
Perdebatan mengenai status Pluto mencerminkan bagaimana sains bekerja secara dinamis. Sains bukanlah sekumpulan fakta statis yang dihafal, melainkan proses belajar yang terus berkembang seiring dengan ditemukannya teknologi dan bukti-bukti baru di alam semesta. (Space/Z-2)











































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)





