Harga masker melonjak akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.(Dok. MI)
ERUPSI Gunung Anak Krakatau yang memicu sebaran debu vulkanik menyebabkan lonjakan permintaan masker di masyarakat. Namun, kondisi darurat ini justru dimanfaatkan sejumlah oknum penjual untuk menaikkan harga secara drastis hingga memicu kemarahan warganet.
Berdasarkan pantauan di media sosial pada Rabu (9/9), keluhan mengenai kenaikan harga masker yang tidak wajar ramai diperbincangkan. Masyarakat yang membutuhkan perlindungan dari polusi udara akibat abu vulkanik menyayangkan sikap penjual yang dianggap mengambil keuntungan berlebihan di tengah situasi sulit.
Menanggapi fenomena tersebut, warganet melancarkan aksi protes unik yang viral di platform X (dahulu Twitter). Sejumlah pengguna media sosial kompak memasukkan produk masker dengan harga selangit ke dalam keranjang belanja (add to cart) secara massal, namun sengaja tidak melakukan proses pembayaran atau checkout.
Aksi "borong tanpa checkout" ini dilakukan sebagai bentuk sindiran sekaligus protes terhadap toko daring yang menaikkan harga secara tidak masuk akal. Gerakan kolektif ini membuat stok produk terlihat seolah-olah habis diburu pembeli, padahal transaksi tidak benar-benar terjadi.
Fenomena ini menjadi sorotan karena menunjukkan kekuatan solidaritas digital dalam merespons ketidakadilan harga. Meski demikian, aksi ini dipahami sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dan tidak serta-merta mencerminkan ketersediaan stok masker secara riil di pasar.
Di tengah kondisi terdampak erupsi, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam membeli masker sesuai kebutuhan. Di sisi lain, para pelaku usaha diharapkan tetap menjaga etika bisnis dengan tidak memanfaatkan situasi bencana untuk menetapkan harga yang merugikan konsumen luas. (Z-10)













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



