Malaysia siap produksi baterai EV bulan ini, bidik pasar ASEAN

1 day ago 2

Jakarta (ANTARA) - Malaysia dikabarkan bakal memproduksi baterai lithium-ion berbasis graphene, untuk mobil listrik pada bulan ini.

Laman Paultan pada Senin (13/7) waktu setempat, melaporkan bahwa langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Malaysia dalam membangun industri baterai lokal sekaligus memperkuat posisinya dalam rantai pasok kendaraan listrik di kawasan ASEAN.

Chief Executive Officer (CEO) NanoMalaysia Rezal Khairi Ahmad mengatakan fasilitas tersebut akan beroperasi sebagai pabrik produksi teknologi baterai lokal pertama di Malaysia.

Menurutnya, proyek ini berpotensi menjadi yang pertama di kawasan ASEAN yang menghasilkan teknologi baterai hasil pengembangan dalam negeri.

“Kami hampir mengoperasikan pabrik produksi teknologi baterai lokal pertama di Malaysia,” ujar Rezal.

Baca juga: Manajemen limbah baterai menjadi fokus pembangunan industri

Baca juga: Pengamat: Hilirisasi nikel jadi modal RI di rantai baterai EV global

Baterai tersebut dikembangkan dengan investasi sekitar RM20 juta atau sekira Rp89 miliar dan akan diproduksi di Gigafactory Malaysia, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki NanoMalaysia. 

Perusahaan yang sudah berdiri sejak 2011 itu berada di bawah Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI) Malaysia.

Reza menjelaskan baterai tersebut mengadopsi kimia nikel mangan kobalt (NMC), bukan lithium iron phosphate (LFP), dengan memanfaatkan graphene sebagai pengganti grafit pada elektroda negatif.

Penggunaan graphene diklaim mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga tiga kali lipat, dibandingkan dengan baterai jenis lithium-ion konvensional yang masih menggunakan grafit.

Dari sisi performa, baterai ini diproyeksikan mampu memberikan jarak tempuh hingga 640 kilometer dalam sekali pengisian daya.

Meski demikian, NanoMalaysia belum mengungkap kapasitas baterai maupun jenis kendaraan yang menjadi acuan pengujian tersebut.

Perusahaan juga menyebut, baterai tersebut juga telah mendukung teknologi pengisian cepat dan dirancang untuk kendaraan listrik dengan kepadatan energi di atas 200 Wh/kg.

Pada tahap awal, NanoMalaysia mengungkapkan telah menerima pesanan baterai berkapasitas 25 kWh dari satu organisasi lokal, sementara sejumlah kerja sama lainnya masih dalam tahap penyelesaian.

Produksi perdana akan dilakukan di fasilitas seluas sekitar 15.000 kaki persegi yang berlokasi di Kawasan Industri Suria, Sepang.

Perusahaan menargetkan kapasitas produksi meningkat hingga skala megawatt-jam (MWh) paling cepat pada September 2026.

Saat beroperasi penuh, pabrik tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar satu MWh kapasitas baterai per tahun atau setara dengan sekitar 92.000 sel baterai.

Harga baterai hingga kini belum diumumkan. Namun, NanoMalaysia meyakini produksi dalam negeri dapat menekan biaya kendaraan listrik dengan mengurangi beban impor, logistik, dan penyimpanan.

Untuk mendukung produksi, perusahaan berencana menjalin kemitraan strategis dengan Indonesia sebagai pemasok nikel, sekaligus mengembangkan program daur ulang baterai guna menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku.

Baca juga: Masalah yang paling sering dihadapi pemilik EV bekas menurut analisis

Baca juga: Sejumlah model EV Hyundai dan Kia disarankan diparkir di luar ruangan

Baca juga: CATL gaet Google, Xiaomi, dan BMW untuk susun aturan baterai global

Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |