Ilustrasi anak dengan autisme.(Dok. Magnific)
DOKTER spesialis anak Amanda Soebadi, menegaskan bahwa faktor genetik memegang peranan krusial sebagai penyebab anak mengalami gangguan spektrum autisme (GSA). Hal ini terutama terlihat pada kasus autisme level tiga atau kategori berat.
“Faktor genetik ini memang ternyata memegang peranan penting pada risiko relative autism (autisme level tiga atau berat),” ujar dr. Amanda dalam sebuah webinar di Jakarta, beberapa waktu lalu,
Risiko pada Saudara Kandung dan Sepupu
Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini memaparkan data statistik terkait risiko genetik tersebut. Menurutnya, saudara kandung (satu ayah dan satu ibu) dari anak dengan kondisi GSA memiliki risiko 9 kali lebih besar untuk mengalami autisme dibandingkan dengan anak dari populasi umum.
Risiko tersebut akan menjadi lebih berat apabila saudara kandungnya didiagnosis mengalami autisme klasik atau level tiga. Bahkan, faktor genetik tetap berpengaruh kuat pada saudara tiri.
“Kalau dia hanya half sibling, artinya sama ayah beda ibu atau sama ibu beda ayah, tetap saja risiko dia meningkat 5 hingga 11 kali lipat,” jelasnya.
Selain pada saudara dekat, risiko juga meluas ke keluarga besar. Seorang anak yang memiliki sepupu dengan gangguan autisme memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan populasi umum untuk mengalami kondisi serupa.
Pola Asuh dan Stigma Orangtua
Di sisi lain, dr. Amanda menyoroti fenomena di mana orangtua sering kali disalahkan atas kondisi autisme anak, terutama terkait pola asuh (parenting style). Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian yang secara pasti mengukur risiko autisme berdasarkan faktor lingkungan atau pola asuh tertentu.
“Memberi nilai parenting itu sangat sulit, dan parenting style pada anak dengan karakteristik berbeda itu tidak sama,” tuturnya.
Ia menjelaskan terdapat dua kecenderungan pola asuh, yakni:
- Pola Asuh Direktif: Orangtua cenderung mengatur atau memberi instruksi kaku, seperti menyuruh anak mandi segera setelah pulang sekolah tanpa ruang diskusi.
- Pola Asuh Responsif: Orangtua lebih banyak bernegosiasi dan merespons inisiatif anak melalui diskusi.
Meskipun anak dengan risiko tinggi autisme sering kali memiliki ibu dengan pola asuh direktif, dr. Amanda menekankan bahwa hal ini belum bisa disimpulkan sebagai penyebab. Belum dipastikan apakah sikap direktif orangtua merupakan faktor risiko autisme, atau justru karakteristik autisme pada anak yang membuat orangtua secara alami cenderung mengambil sikap lebih mengatur (direktif) dalam keseharian. (Ant/H-3)









































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)








