Dokter: Bermain Gawai Bukan Penyebab Utama ADHD dan Autisme pada Anak

2 hours ago 2
 Bermain Gawai Bukan Penyebab Utama ADHD dan Autisme pada Anak Ilustrasi anak bermain gawai.(Dok. Magnific)

KEBIASAAN bermain gawai (gadget) sering kali dituding sebagai pemicu gangguan perkembangan pada anak. Namun, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neurologi Anak RSCM Kencana, Amanda Soebadi, menegaskan bahwa gawai bukanlah penyebab anak mengalami ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) maupun autisme.

"Jadi gadget itu bukan penyebab ADHD," ujar Amanda dalam wawancara eksklusif di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Penyebab ADHD: Ketidakseimbangan Kimia Otak

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut menjelaskan bahwa ADHD terjadi karena adanya imbalance atau ketidakseimbangan neurotransmitter. Zat kimia di dalam otak ini sangat diperlukan agar otak dapat berfungsi secara normal.

ADHD sendiri merupakan gangguan saraf yang umumnya membuat penderita sulit fokus dan berperilaku impulsif. Hingga saat ini, penyebab pasti ADHD belum diketahui sepenuhnya, selain faktor genetik yang memegang peranan penting.

Terkait penggunaan gawai, anak dengan ADHD memang cenderung memiliki ketertarikan lebih terhadap perangkat pintar. Hal ini disebabkan oleh mekanisme "hadiah instan" (instant reward) yang ditawarkan gawai dengan usaha yang minimal.

"Ketika bermain game, otak mendapatkan stimulus yang berubah dengan cepat namun hanya butuh usaha ringan dan repetitif. Secara natural, karena ketidakseimbangan neurotransmitter, otak mencari cara instan untuk mengeluarkan dopamin, sehingga anak menjadi malas melakukan aktivitas lain," jelasnya.

Gawai sebagai 'Modifier' Gejala Autisme

Sementara itu, Amanda menjelaskan bahwa autisme disebabkan oleh multifaktor, mulai dari genetik hingga paparan lingkungan. Dalam konteks ini, gawai berperan sebagai modifier atau pengubah tampilan gejala, bukan penyebab utama.

Ia memberikan catatan penting mengenai perbedaan dampak gawai pada anak autis dan non-autis:

  • Anak Non-Autis: Jika terpapar gawai berlebihan dan kurang interaksi sosial, mereka bisa menunjukkan gejala menyerupai anak autis. Namun, proses perbaikannya relatif lebih cepat dan interaksi sosialnya dapat membaik setelah paparan gawai dikurangi.
  • Anak Autis: Paparan gawai yang berlebihan justru akan memperburuk kondisi karena mengurangi kesempatan interaksi antarmanusia. Hal ini membuat anak semakin mengisolasi diri dan memerlukan penanganan spesifik seperti terapi.

Amanda mengingatkan orang tua bahwa meski bukan penyebab utama, penggunaan gawai tetap harus diawasi agar tidak menghambat stimulasi sosial dan perkembangan saraf anak secara optimal. (Ant/H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |