Sekolah Swasta di Purwakarta Banyak Kekurangan Murid

2 hours ago 1
Sekolah Swasta di Purwakarta Banyak Kekurangan Murid Lima siswa SMK Taruna Sakti Purwakarta tengah belajar di dalam kelas.(MI/REZA SUNARYA)

SUNGGUH miris. Sekolah-sekolah swasta di Kabupaten Purwakarta dalam dua tahun terakhir banyak mengalami kekurangan siswa.

Salah satunya dialami SMK Taruna Sakti Purwakarta. Pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027, sekolah ini hanya memperoleh lima pendaftar. Sementara SMEA Bina Budi hanya mendapat 9 siswa.

Ketua Yayasan SMK Taruna Sakti, M Magfur, mengatakan pihaknya tetap bersyukur atas kepercayaan masyarakat yang telah mendaftarkan putra-putrinya ke sekolah tersebut.

"Dengan  adanya kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2026 ini, jumlah pendaftar di SMK Taruna Sakti hanya lima siswa. Kami tetap bersyukur dan berharap ke depan semakin banyak masyarakat yang memilih melanjutkan pendidikan di SMK Taruna Sakti," ungkapnya, Kamis (16/7).

Menurut dia, persaingan dalam dunia pendidikan, khususnya di tingkat SMK, menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah swasta. Karena itu, pihak yayasan akan terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, pelayanan, serta kompetensi lulusan agar mampu bersaing dan menarik minat calon peserta didik.


BANYAK FAKTOR


Kondisi ini, menurut pengamat pendidikan Asep Mulyana dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari perubahan demografi, perpindahan penduduk, hingga sistem penerimaan murid baru yang dinilai masih terlalu rumit.

Dia menjelaskan bahwa faktor eksternal menjadi penyebab utama berkurangnya jumlah siswa, terutama pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Angka kelahiran yang terus menurun sebagai dampak keberhasilan program keluarga berencana (KB) membuat jumlah anak usia sekolah ikut berkurang.

Selain faktor kelahiran, Asep juga menyoroti fenomena urbanisasi. Banyak keluarga dari wilayah pedesaan berpindah ke kawasan perkotaan untuk bekerja, sehingga anak-anak mereka ikut pindah sekolah. Kondisi tersebut menyebabkan sekolah-sekolah di daerah pinggiran mengalami penurunan jumlah peserta didik.

Ia juga mengungkapkan adanya perubahan pola pikir sebagian orangtua yang memilih menyekolahkan anak langsung ke pondok pesantren, terutama pesantren tradisional yang tidak menyelenggarakan pendidikan formal. Sementara pesantren modern dinilai tidak menjadi persoalan karena tetap mengintegrasikan pendidikan formal dengan pendidikan agama.

Pada jenjang SMA, SMK, dan MA, Asep mengatakan jumlah lulusan SMP sebenarnya masih mencukupi untuk mengisi daya tampung sekolah menengah atas. Namun, distribusi sekolah negeri dan swasta yang belum seimbang serta tingginya minat masyarakat terhadap sekolah negeri menjadi persoalan tersendiri.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |