Ilustrasi(MI/M IQBAL AL MACHMUDI)
GUNTUR Soekarnoputra, 81, yang merupakan putra sulung Presiden Pertama RI Ir Sukarno mendapat penghargaan berupa rekor muri dari Rekor Muri Indonesia atas rekor putra presiden pertama yang membentuk grup band dan karyanya direkam dalam piringan hitam.
Kategori karya yang dicapai Guntur dinilai pantas dan dicatat bersifat unik, pertama kali sehingga karya itu bisa diraih dalam kondisi politik, ekonomi dan keamanan yang saat itu boleh dinilai tak mudah dijalani.
Kakak kandung Presiden ke-5 RI Megawati Soekanoputri itu mengaku tidak pernah terpikir sama sekali mendapatkan rekor muri. Pada saat itu membentuk band hanya sekedar untuk menambah uang jajan saat berkuliah di Bandung.
"Buat saya Rekor Muri ini mengejutkan dan surprise karena saya dari dulu tidak pernah memikirkan rekor-rekoran tersebut apalagi mengejarnya. Saya berkarya saja, main musik, cari duit, dan bahagia," kata Guntur di Jakarta, Kamis (16/7).
Ia menceritakan tidak pernah terpikir sedikit pun membentuk band, tetapi pada saat kulaih di fakultas teknik mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1962 uang saku yang diberikan sang ayah yakni Ir Soekarno sangat sedikit.
"Jumlah uang saku yang diberikan bapak sama seperti jumlah uang saku ketika bapak kuliah. Jadi cuman berapa gulden kalau dikonversi ke rupiah sangat sedikit jadi nggak cukup buat saya," ungkap Mas Tok sapaan akrabnya.
Oleh karena itu ia putar otak untuk menambah uang jajan. Akhirnya ia menghubungi teman-temannya yang tinggal di Kota Kembang. Ia pun bergabung dengan kelompok band Alulas, yang dipimpin Syamsuddin salah satu musisi yang kemudian menjadi personil Group Band Bimbo.
"Saya terus terang, saya dapat uang saku dari bapak enggak cukup kalau saya masuk band dapat nggak bayaran? Pada saat itu saya berpikir yang penting ada uang masuk," cerita dia.
Usai melalui berbagai tes memainkan sejumlah alat musik dan vokal ia diterima sebagai personil musik Alulas Band, sebuah kelompok musik yang dikenal di Bandung pada 1962. Namun, di Alulas ia tidak bertahan lama karena pendapatannya juga tida terlalu banyak.
Dari Alulas Band, mas Tok akhirnya mempelopori berdirinya kelompok musisi baru yang kemudian dinamakan Aneka Nada. Selain Syamsuddin, personil lainnya adalah Iwan Abdurachman, Iman Djumaedi, Memet Slamet, Yessy Wenas dan Alphonse.
Aneka Nada saat itu menjadi wadah kreativitas musik bagi anak muda dan seniman dimasanya itu. Band ini juga didukung oleh sejumlah musisi dan tokoh yang kelak menjadi legenda, seperti Syamsuddin, Iwan Abdurachman dan Iman Djumaedi. Kelompok band-nya juga cukup disegani dan sering tampil dalam berbagai acara serta mengiringi kegiatankegiatan seni.
"Di Aneka Nada uang sakunya cukup besar jadi kalau buat traktir-traktir bisa. Terutama traktir bekas pacar saya yang sekarang menjadi istri saya. Tapi paling pol saya bisa traktir di warteg di bawah tiang PLN kalau mau makan antre dulu," ungkapnya.
Dengan grup musik barunya itu, mas Tok dan Aneka Nada bisa tampil di berbagai acara di antaranya di hotel-hotel di Bandung dan tempat pertunjukan lainnya. Sejumlah lagu lawas era 1962-1963 pun mengalir dibawakan mas Tok dan kawan-kawannya.
Terkadang mas Tok memainkan alat musik gitar dan bergantian menabuh drum dan juga vibraphone dengan personil lainnya. Ia juga sempat menciptakan beberapa lagu, di antaranya berjudul "Masa Lalu", yang menceritakan temannya yang ditinggal pergi sang kekasih. Sebuah musik instrumentalia juga berhasil diciptakan lewat petikan gitarnya, dan dibawakan Aneka Nada.

Mas Tok dan Aneka Nada tak sekadar tampil menghibur. Ia juga mengajak personil group bandnya agar sejumlah lagu yang dibawakan bisa direkam dalam piringan hitam. Sebelum merekam lagu-lagu dan musiknya, mas Tok juga membentuk grup musik yang dimainkan hanya oleh empat personil band.
Namanya, Kwartet Bintang. Personilnya, hanya empat yaitu mas Tok sendiri, Memet Slamet, Yessy Wenas da Dodo Rukanda Ishak. Bersama Kwartet Bintang dan Aneka Nada pun, mas Tok akhirnya berhasil merekam dalam piringan hitam.
Dengan piringan hitam yang dirilis itulah, Aneka Nada dan Kwartet Bintang menjadi salah satu pelopor grup musik modern saat itu yang turut mewarnai sejarah musik pop di Indonesia di masa tersebut.
Sebagai apresiasi dan penghargaan terhadap putra Presiden Pertama yang membentuk Grup Band dan Karyanya direkam dalam piringan hitam, Guntur Soekarno kini berhak menyandang gelar Rekor MURI atas dedikasi, karya dan bakat musiknya.*
Pendiri Rekor MURI Jaya Suprana mengatakan rekor yang diberikan kepada Mas Tok akan abadi karena putra presiden pertama selamanya ada pada diri Mas Tok sepanjang zaman.
"Beliau pun secara de facto dan de jure adalah putra sulung presiden pertam RI," pungkasnya. (H-2)


















































