Tim ITB Peduli lakukan misi kemanusiaan di wilayah terdampak gempa di NTT.(Dok ITB)
INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) melalui program ITB Peduli melaksanakan misi kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 17–21 Agustus 2026. Tim melakukan asesmen kondisi wilayah dan infrastruktur, membangun sepuluh shelter keluarga darurat, serta menyalurkan tenda dan bantuan logistik kepada warga terdampak di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran Prof. Dr.-Ing. Zulfiadi memaparkan, misi tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi dampak gempa dan ribuan gempa susulan. Mulai dari kerusakan bangunan dan fasilitas publik, keterbatasan tempat tinggal sementara, krisis air bersih, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), hingga terganggunya akses transportasi akibat longsor.
Program ini melibatkan kolaborasi berbagai elemen, yakni Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, Ikatan Alumni ITB (IA ITB), Ikatan Orangtua Mahasiswa ITB (IOM ITB), Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB), Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, serta Rumah Amal Salman.
"Adapun delegasi yang turun langsung ke wilayah terdampak terdiri atas Dr.rer.nat. David Prambudi Sahara, Awal Wahyu Rahmadi dari DPMK ITB serta Ir. H. Mipi Ananta Kusuma, Wahid Satria Y., dan Jajang dari Rumah Amal Salman," jelasnya, Senin (24/8).
Menurut Zulfiadi, di lokasi tim berkoordinasi dengan Posko Pusat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Koordinasi tersebut dilakukan untuk memetakan wilayah prioritas yang membutuhkan penanganan segera sekaligus menyelaraskan distribusi bantuan di lapangan. Dari Labuan Bajo, tim bergerak melalui jalur darat menuju Kecamatan Reo di Kabupaten Manggarai serta wilayah Roting di Kabupaten Manggarai Timur.
"Di lokasi tersebut, tim aksi cepat yang dipimpin Ir. H. Mipi Ananta Kusuma bersama Wahid Satria Y. dan Jajang membangun sepuluh unit selter atau tenda keluarga darurat dengan struktur bambu," tuturnya.
Shelter tersebut kata Zulfiadi, mengadaptasi desain cepat bangun karya Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB.
Desain memanfaatkan bambu lokal sehingga dapat dibangun dengan relatif cepat sekaligus memungkinkan untuk direplikasi secara mandiri oleh masyarakat bersama BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan para relawan.
"Selain memberikan bantuan langsung, tim ITB melakukan asesmen terhadap kondisi wilayah terdampak. Dari pengamatan lapangan, tim menemukan bahwa tingkat kerusakan akibat gempa tidak selalu berbanding lurus dengan jarak suatu wilayah dari episenter utama," tandasnya.
Zulfiadi menambahkan, sejumlah kerusakan berat ditemukan di pesisir utara Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur yang relatif jauh dari pusat gempa M7,7 di sekitar Mbay.
Di Kecamatan Reo dan Roting, rentetan gempa susulan (aftershocks) yang terjadi ribuan kali menyebabkan warga masih harus tinggal di tenda darurat.
"Rangkaian misi pada 17–21 Agustus 2026 tersebut menjadi langkah awal program ITB Peduli NTT. Data asesmen dan temuan lapangan selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan bentuk dukungan lanjutan, khususnya terkait rehabilitasi shelter, pemenuhan air bersih, serta pemulihan fasilitas publik bagi masyarakat Flores secara berkelanjutan," sambungnya. (AN/E-4)











































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)






