Jakarta (ANTARA) - Kedutaan Besar Amerika Serikat menyatakan bahwa dukungannya terhadap platform digital “Koleksi Jakarta” merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap identitas budaya Indonesia sekaligus upaya mempererat hubungan bilateral antara kedua negara.
“US Ambassador’s Fund for Cultural Preservation (AFCP) mendukung pelestarian berbagai warisan budaya, termasuk bangunan bersejarah, situs arkeologi, koleksi museum seperti yang kita lakukan di sini, lukisan, manuskrip, dan bahasa asli yang terancam punah,” kata Juru Bicara Kedubes AS Jamie Ravetz di Jakarta, Selasa.
Menurut Jamie, dukungan terhadap platform digital tersebut bertujuan memperkuat kemitraan melalui kolaborasi dengan berbagai institusi, termasuk museum dan organisasi, serta mempererat hubungan antarmasyarakat yang menjadi fondasi utama kerja sama dan hubungan bilateral kedua negara.
Selain mendukung platform digital tersebut, Jamie menyampaikan bahwa AFCP juga mendukung pelestarian bahasa daerah di Indonesia agar bahasa-bahasa daerah tersebut tidak hilang, serta membantu upaya pelestarian tradisi kuliner Indonesia.
“Kami juga melakukan sesuatu yang cukup baru dalam mendukung tradisi kuliner melalui organisasi bernama Nusa Gastronomy yang mendukung tradisi kuliner Indonesia,” kata Jamie.
Dia mengatakan organisasi itu telah menyelamatkan resep-resep yang populer ratusan tahun yang lalu dan berupaya menghidupkan kembali resep tersebut melalui buku masak.
Saat ditanya proyek apa yang akan didukung oleh AFCP di Indonesia di masa mendatang, Jamie menjawab bahwa pihaknya sedang menunggu hasilnya.
Jamie menyampaikan AFCP menerima pengajuan proposal pendanaan pelestarian budaya setiap tahun, dan Indonesia bersaing dengan negara-negara lain untuk mendapatkan persetujuan pendanaan tersebut.
“Kami bersaing secara global. Proyek-proyek di Indonesia bersaing dengan proyek-proyek yang diajukan oleh kedutaan besar di seluruh dunia. Saat ini kami sedang menunggu hasilnya,” ujar Jamie.
Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Southeast Asia Museum Services (SEAMS), yang didukung oleh US Ambassador’s Fund for Cultural Preservation (AFCP), resmi meluncurkan platform digital “Koleksi Jakarta” di Museum Sejarah Jakarta pada Selasa.
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary mengatakan kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama dan mengapresiasi bantuan dari AFCP dan SEAMS.
Dia menyatakan bahwa pihaknya akan terus-menerus melakukan evaluasi proyek platform digital “Koleksi Jakarta” itu agar platform tersebut dapat terus berjalan dengan lancar dan tidak berhenti pada peluncuran saja.
“Dalam artian apabila ada update, ini bisa kita update, sehingga masyarakat bisa mengetahui bagaimana kondisi-kondisi terkininya… Tentunya pasti kami juga akan terus minta masukan dan arahan ketika ada hal-hal yang tidak bisa kami lakukan sendiri,” kata Miftahulloh.
Baca juga: Koleksi era Majapahit Pura Mangkunegaran siap hadir di museum AS
Sementara itu, Direktur Utama Southeast Asia Museum Services (SEAMS) Dyah Pandam Mitayani berharap agar platform tersebut dapat bermanfaat untuk pendidikan dan penelitian serta dapat diakses oleh semua kalangan.
“Kami mencoba membuat sistem ini dapat diakses oleh semuanya. Jadi kita memasukkan fungsi aksesibilitas juga di dalam website supaya semua kalangan dapat menikmati,” kata Mita.
Platform “Koleksi Jakarta” menghadirkan lebih dari 1.400 objek koleksi digital dan lebih dari 1.500 objek katalog dari 11 museum yang memungkinkan publik, peneliti, pendidik, pelajar, serta pemerhati budaya untuk menemukan, mempelajari, dan menelusuri warisan budaya Jakarta kapan saja dan dari mana saja.
Platform tersebut merupakan hasil implementasi kegiatan “Koleksi Kita” yang telah berjalan sejak 2024. Melalui program itu, ribuan koleksi museum didata, dikatalogkan, dan digitalisasi untuk memperkuat pengelolaan koleksi dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pengetahuan budaya.
Baca juga: AS berkomitmen perkuat kerja sama kembalikan benda budaya Indonesia
Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5469567/original/092858600_1768130667-4.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400184/original/044015200_1762068222-InShot_20251102_134540718.jpg)