Ekonom: Gelombang panas kini guncang pertumbuhan ekonomi Eropa

5 hours ago 3

Berlin (ANTARA) -

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa mulai membebani aktivitas ekonomi di berbagai negara, terutama Jerman sebagai ekonomi terbesar di kawasan tersebut.

Para ekonom dan organisasi internasional memperingatkan bahwa gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim kini tidak lagi dipandang sebagai peristiwa sementara, melainkan risiko makroekonomi struktural yang dapat mengancam investasi dan produksi.

Suhu pada Juni yang memecahkan rekor di sejumlah negara Eropa membuat Prancis, Inggris, Swiss, dan Jerman mengalami bulan Juni terpanas dalam beberapa tahun terakhir.

Gelombang panas di Prancis bahkan mengingatkan kembali pada peristiwa musim panas 2003 yang diperkirakan menyebabkan sekitar 70 ribu kematian.

Rumah sakit di beberapa negara Eropa melaporkan kondisi kritis akibat gangguan pada sistem pendingin dan infrastruktur teknologi informasi, sementara Prancis terpaksa menghentikan sementara operasi dua reaktor nuklir.

Kepala Riset Makro dan Kepala Ekonom Jerman di ING, Carsten Brzeski, Senin (29/6), menulis bahwa gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa telah berubah dari sekadar peristiwa cuaca menjadi variabel makroekonomi yang mengguncang perekonomian kawasan, mengingatkan pada dampak pembatasan aktivitas saat pandemi COVID-19.

Menurut Brzeski, jalan-jalan yang sepi, sekolah yang ditutup, gangguan layanan kereta api, dan penghentian reaktor nuklir di Prancis akibat kekurangan air pendingin meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat maupun ekonomi Eropa.

“Ternyata termometer telah menjadi indikator utama pertumbuhan ekonomi. Gelombang panas menghadirkan risiko penurunan baru bagi pertumbuhan Eropa,” katanya.

Ia mengatakan risiko terkait panas selama ini dianggap sebagai masalah Eropa Selatan, tetapi data terbaru menunjukkan Jerman berpotensi menempati peringkat ketiga di Eropa dalam kerugian ekonomi kumulatif akibat udara panas hingga 2030.

“Bukan karena musim panas Jerman akan setara dengan Sevilla, tetapi karena infrastruktur, perumahan, serta sektor padat karya seperti konstruksi dan logistik dibangun untuk iklim yang lebih sejuk dan belum mampu beradaptasi,” ujarnya.

Brzeski mengutip laporan Climate Analytics Januari 2026 yang disusun atas permintaan Bank Dunia dan menyebut Jerman masih kekurangan langkah komprehensif untuk menghadapi tekanan panas, sementara perencanaan adaptasi tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Ia juga menambahkan bahwa survei bisnis Komisi Eropa semakin sering menunjukkan cuaca sebagai faktor yang membatasi produksi. Dalam beberapa musim panas terakhir, Spanyol dan Jerman tercatat mengalami gangguan paling besar akibat gelombang panas.

Meski harga energi yang lebih rendah dapat sedikit membantu rumah tangga dan pelaku usaha, Brzeski menilai panas ekstrem tetap menjadi hambatan besar bagi pertumbuhan ekonomi karena ancaman gangguan pasokan, penurunan permukaan air, kerusakan infrastruktur transportasi, serta penurunan produktivitas tenaga kerja.

Ia mengutip studi tahun 2021 yang memperkirakan bahwa tahun-tahun dengan gelombang panas terburuk di Eropa, yakni 2003, 2010, 2015, dan 2018, menyebabkan kehilangan output ekonomi sebesar 0,3 - 0,5 persen PDB hanya akibat turunnya produktivitas tenaga kerja, bahkan melebihi 1 persen di wilayah yang paling terdampak.

“Jika ditambah biaya pendinginan, kenaikan biaya kesehatan, perbaikan infrastruktur darurat, serta dampak terhadap transportasi, jalur air, dan pertanian, maka dampak negatif terhadap ekonomi menjadi jauh lebih besar,” kata Brzeski.

Baca juga: Gelombang panas picu kebakaran hutan di sejumlah wilayah Jerman

Inflasi pangan berlipat ganda

Para ekonom memperkirakan dampak inflasi terbesar dari panas ekstrem akan terasa di sektor pertanian dan harga pangan karena kekeringan menurunkan hasil panen.

Sebelumnya, Bank Sentral Eropa (ECB) memperkirakan gelombang panas dan kekeringan dapat mendorong inflasi pangan sekitar 0,4–0,9 poin persentase, dan dampaknya berpotensi berlipat ganda dalam 30 tahun mendatang.

Brzeski menyebut panas ekstrem kini menjadi risiko ekonomi struktural bagi Eropa. Ia mengutip analisis Allianz Trade yang memperkirakan Jerman menghadapi risiko kehilangan PDB kumulatif sebesar 131 miliar dolar AS (sekitar Rp2,34 kuadriliun) pada periode 2026–2030.

Suhu di atas 30 derajat Celsius diperkirakan dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga 240 miliar dolar AS (sekitar Rp4,28 kuadriliun) di Prancis, 147 miliar dolar AS (sekitar Rp2,62 kuadriliun) di Italia, dan 120 miliar dolar AS (sekitar Rp2,14 kuadriliun) di Spanyol akibat penurunan produktivitas dan kenaikan biaya energi. Namun Jerman diperkirakan akan menanggung beban yang sangat besar.

Data resmi menunjukkan gelombang panas yang sebelumnya dianggap sebagai biaya sementara dan dapat dipulihkan kini menimbulkan kerusakan jangka panjang pada ekonomi Eropa karena panas ekstrem secara langsung menekan output PDB dan memicu tekanan inflasi melalui gangguan rantai pasok.

“Makalah bersama Universitas Mannheim dan ECB tahun lalu juga menghitung kerusakan ekonomi akibat gelombang panas, kekeringan, dan banjir pada musim panas 2025. Menurut kajian itu, ekonomi Eropa kehilangan sekitar 0,3 persen output, dan kerugian kumulatifnya bisa mencapai 0,8 persen pada 2029 akibat hilangnya produktivitas, gangguan rantai pasok, dan penurunan pendapatan pariwisata,” ujar Brzeski​​​​​​.

Ia menambahkan bahwa laporan Bank Dunia menyerukan langkah-langkah mendesak untuk mengatasi risiko penurunan produktivitas pekerja dan kerusakan infrastruktur, termasuk pemberian insentif pajak guna mendorong investasi sektor swasta dalam sistem isolasi bangunan, peneduh, dan pendingin udara.

Menurut Brzeski, adaptasi terhadap panas ekstrem kini bukan lagi sekadar kebijakan lingkungan, melainkan kebutuhan ekonomi untuk menjaga produktivitas dan daya saing Eropa.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Gelombang panas sebabkan kunjungan ruang gawat darurat di Italia naik

Baca juga: WHO: Lebih dari 1.300 kematian terkait dengan gelombang panas di Eropa

Baca juga: Reaktor nuklir Swiss dimatikan seiring menghangatnya Sungai Aare

Baca juga: Belanda perpanjang status siaga kode merah untuk 4 provinsi

Penerjemah: Primayanti
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |