Uni Eropa siapkan strategi dagang baru hadapi defisit atas China

3 hours ago 3

Brussel (ANTARA) - Uni Eropa tengah mempersiapkan perubahan mendasar dalam kebijakan perdagangannya di tengah membengkaknya defisit perdagangan dengan China, meningkatnya ketergantungan pada sektor-sektor strategis, serta tekanan terhadap industri Eropa akibat model produksi yang didukung oleh negara di China.

Sebagai pusat manufaktur terbesar di dunia, China terus memperluas penetrasi ke pasar global melalui kebijakan industri yang didukung pemerintah.

China dengan cepat meningkatkan kapasitas produksi di berbagai sektor, terutama kendaraan listrik, baterai, panel surya, bahan baku mineral kritis, dan produk teknologi tinggi, yang semakin menekan daya saing Eropa.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dalam KTT G7 di Kanada menyatakan bahwa hubungan perdagangan Uni Eropa dengan China saat ini tidak berkelanjutan.

Menurut von der Leyen, Uni Eropa perlu meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jaringan perjanjian perdagangan bebas di berbagai kawasan dunia, serta melakukan diversifikasi rantai pasok. Ia juga menyoroti konsentrasi pasokan mineral dan bahan baku kritis di China, sehingga Uni Eropa harus menghindari ketergantungan berlebihan pada satu pemasok.

Dominasi China dalam perdagangan global menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Brussel pada Kamis dan Jumat.

Komisi Eropa menegaskan bahwa hubungan ekonomi dengan China tetap perlu dipertahankan melalui pendekatan mitigasi risiko. Namun, hubungan perdagangan dan investasi saat ini dinilai tidak lagi berkelanjutan.

Sejumlah konsultasi tingkat tinggi di Brussel menunjukkan bahwa ancaman ekonomi dan keamanan tidak lagi dapat dipisahkan. Kondisi tersebut mendorong lahirnya kebijakan yang lebih komprehensif dan terkoordinasi terhadap China, termasuk penerapan tarif baru, kuota impor, kewajiban diversifikasi rantai pasok, serta instrumen pertahanan ekonomi baru untuk menghadapi risiko yang muncul dari pusat manufaktur dunia tersebut.

Tahun lalu menjadi titik balik dalam hubungan perdagangan Uni Eropa dengan China. Untuk pertama kalinya, seluruh negara anggota Uni Eropa mencatat defisit perdagangan dengan negara tersebut.

Data Eurostat menunjukkan impor Uni Eropa dari China mencapai 559,4 miliar euro atau sekitar 695,3 miliar dolar AS (Rp12.390 triliun) pada 2025. Sementara itu, ekspor Uni Eropa ke China hanya mencapai 231,5 miliar dolar AS (Rp4.125,3 triliun), sehingga menghasilkan defisit perdagangan tertinggi sepanjang sejarah sebesar 417,4 miliar dolar AS (Rp7.419,3 triliun).

Persaingan ketat dari China di sektor kendaraan listrik, panel surya, baterai, baja, bahan kimia, dan mesin memberikan tekanan besar terhadap produsen Eropa. Karena itu, Brussel kini memandang masuknya produk murah China yang didukung negara bukan hanya sebagai persoalan perdagangan, tetapi juga isu strategis.

Lembaga pemikir Center for European Reform yang berbasis di London memperingatkan bahwa Jerman menghadapi risiko deindustrialisasi yang serius akibat meningkatnya kapasitas produksi China. Perusahaan-perusahaan China disebut semakin banyak merebut pangsa pasar produsen Jerman, baik di pasar domestik Jerman, negara-negara ketiga, maupun langsung di pasar Eropa.

Sejumlah laporan memperkirakan China dapat menguasai sekitar 40 persen produksi industri dunia pada 2030. Kondisi itu dipandang akan memberikan tekanan besar terhadap kemampuan produksi, penelitian dan pengembangan (R&D), serta inovasi di Eropa.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Uni Eropa tengah menyiapkan berbagai mekanisme baru. Komisi Eropa sedang membahas peluncuran investigasi perlindungan pasar secara luas terhadap sektor-sektor tertentu, mengembangkan instrumen baru untuk menghadapi kelebihan produksi China di sektor strategis, serta menerapkan langkah-langkah perlindungan khusus per sektor.

Beberapa usulan dari Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, dan Lithuania bahkan melampaui mekanisme antidumping yang berlaku saat ini. Negara-negara tersebut mengusulkan penerapan tarif bea masuk langsung terhadap sektor tertentu tanpa harus melalui proses investigasi yang panjang.

Rantai pasok produk kritis

Salah satu regulasi penting yang sedang disusun akan mewajibkan diversifikasi rantai pasok untuk produk-produk kritis. Tujuannya adalah mencegah perusahaan-perusahaan Eropa bergantung pada satu negara atau satu pemasok untuk kebutuhan cip semikonduktor, unsur tanah jarang, dan bahan industri strategis lainnya.

Dalam rancangan tersebut, perusahaan diwajibkan memiliki sedikitnya tiga sumber pasokan berbeda dan membatasi porsi satu pemasok dalam total kebutuhan mereka.

Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, mengusulkan instrumen diversifikasi tersebut guna mencegah potensi gangguan pasokan, terutama untuk semikonduktor dan bahan baku kritis.

Menurut Leibniz Centre for European Economic Research (ZEW), strategi diversifikasi memang menimbulkan biaya tambahan bagi perusahaan. Namun, biaya tersebut sebaiknya dipandang sebagai premi asuransi karena kerugian akibat terganggunya pasokan dapat jauh lebih besar.

Pilihan lain yang sedang dipertimbangkan adalah mekanisme baru untuk menjaga ketahanan ekonomi Uni Eropa. Melalui instrumen ini, blok tersebut dapat secara langsung menerapkan tarif tambahan dan kuota impor ketika praktik pasar yang dianggap merusak mengancam keamanan ekonomi kawasan. Dasar hukumnya diperkirakan akan menggunakan klausul pengecualian keamanan nasional dalam aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Sikap Uni Eropa yang semakin tegas terhadap China didorong oleh kekhawatiran atas ketergantungan strategis dan terus membesarnya defisit perdagangan. Pembatasan ekspor unsur tanah jarang, magnet, dan teknologi kritis lainnya oleh Beijing juga memicu kekhawatiran di Eropa.

Brussel tidak ingin mengalami kembali krisis seperti yang terjadi setelah pecahnya perang Rusia-Ukraina, ketika ketergantungan energi menjadi masalah besar. Namun demikian, hingga kini belum ada konsensus penuh di antara negara anggota mengenai penerapan langkah perdagangan yang sangat ketat terhadap China.

Prancis menjadi salah satu negara yang mendorong tarif lebih tinggi, sementara Jerman dan Spanyol cenderung mengambil pendekatan yang lebih hati-hati karena hubungan ekonomi mereka yang erat dengan China.

Meski demikian, arah kebijakan umum Uni Eropa saat ini mengarah pada upaya mengurangi ketergantungan dan menjaga daya saing, bukan memutus hubungan ekonomi secara total dengan China.

Instrumen pertahanan perdagangan baru yang dibahas dalam berbagai pertemuan pekan ini diperkirakan akan menentukan arah hubungan ekonomi antara Brussel dan Beijing pada masa mendatang.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Uni Eropa dorong rute dagang baru untuk hindari risiko Selat Hormuz

Baca juga: China batalkan pertemuan tingkat tinggi dengan Uni Eropa

Penerjemah: Primayanti
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |