Wang Yi: Laut China Selatan jangan hambat hubungan Tiongkok-ASEAN

4 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi mengharapkan agar masalah Laut China Selatan tidak menghambat hubungan antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN yang sudah terjalin dengan baik.

"Menteri Luar Negeri Wang Yi menyampaikan bahwa Laut China Selatan merupakan rumah bersama bagi negara-negara kawasan, dan isu Laut China Selatan tidak boleh menjadi hambatan dalam hubungan China-ASEAN," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (23/7).

Menlu Wang Yi menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri China-ASEAN di Manila pada Rabu (22/7).

Padahal pada Senin (20/7), terjadi aksi saling serang antara Penjaga Pantai China dengan personel militer Filipina di gugus karang yang disebut Ren'ai Jiao oleh China atau Beting Ayungin oleh Filipina di Laut China Selatan yang menyebabkan Filipina memanggil Dubes China di negara tersebut.

"China dan negara-negara ASEAN memiliki kebijaksanaan serta kemampuan untuk terus menangani isu ini dengan baik, sehingga perdamaian, stabilitas, kerja sama, dan persahabatan menjadi narasi utama di Laut China Selatan," tambah Lin Jian.

Lin Jian menyebut inisiatif untuk menjaga perdamaian dan stabilitas Laut China Selatan harus tetap berada secara kokoh di tangan negara-negara kawasan.

"China siap bekerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk menghilangkan gangguan dan mempercepat konsultasi mengenai Kode Etik Laut China Selatan (Code of Conduct atau COC)," tegas Lin Jian.

Dalam pertemuan di Manila, Menlu Wang Yi, menurut Lin Jian, juga memperkenalkan berbagai pencapaian kerja sama Kemitraan Strategis Komprehensif China-ASEAN selama lima tahun terakhir.

"Ia mengatakan Protokol Peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas China–ASEAN 3.0 telah resmi ditandatangani, volume perdagangan antara China dan ASEAN terus meningkat selama bertahun-tahun, menjadikan China dan ASEAN sebagai mitra dagang terbesar satu sama lain selama enam tahun berturut-turut," ungkap Lin Jian.

Selain itu, China dan ASEAN juga menunjukkan solidaritas dalam berbagai situasi bencana alam seperti gempa bumi yang melanda Myanmar dan Mindanao, Filipina serta hubungan antarmasyarakat China dan ASEAN yang semakin erat, ditandai dengan perjalanan timbal balik makin mudah.

Menlu Wang Yi, ungkap Lin Jian, juga menyampaikan empat usulan untuk hubungan China dan ASEAN pada masa depan yaitu pertama, menjaga lingkungan regional yang mendukung perdamaian dan pembangunan serta menjunjung nilai-nilai Asia berupa perdamaian, kerja sama, keterbukaan, dan inklusivitas.

Kedua, memperkuat ketahanan pembangunan regional, tetap berkomitmen terhadap kerja sama terbuka, serta memperdalam integrasi pembangunan.

Ketiga, mendorong pembangunan hijau dan berbasis inovasi, memperluas kerja sama di bidang-bidang baru, serta meningkatkan kolaborasi dalam penanganan perubahan iklim, energi bersih, pertanian hijau, dan ekonomi biru.

Keempat, tetap berorientasi pada masyarakat dan mendorong pembangunan yang inklusif serta memberikan manfaat bagi semua, guna memastikan hasil kerja sama China-ASEAN dapat dirasakan dan diakses secara nyata serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat semua negara.

Pertemuan Manila juga mengesahkan "Pernyataan Bersama Menteri Luar Negeri China-ASEAN mengenai Penanganan Dampak Perkembangan Situasi Timur Tengah terhadap Kawasan serta Penguatan Kerja Sama Energi Regional".

Di Manila, Menlu Wang Yi juga melakukan berbagai pertemuan bilateral dengan berbagai menteri luar negeri negara mitra yaitu Menlu Inggris David Miliband, Menlu Mesir Badr Abdelatty, Menlu Papua Nugini Justin Tkatchenko, Menlu Vietnam Le Hoai Trung, Menlu Brasil Mauro Vieira, Menlu Bangladesh Khalilur Rahman, Menlu Brunei Darussalam Pangeran Abdul Mateen, Menlu India Subrahmanyam Jaishankar, Menlu Filipina Theresa Lazaro, Menlu Amerika Serikat Marco Rubio, Menlu Malaysia Mohamad Hasan, dan Menlu Australia Penny Wong.

Sayangnya, Menlu Wang Yi tidak tidak menghadiri pertemuan ASEAN Plus Three dan Forum Regional ASEAN yang dihadiri oleh Menlu Jepang.

"Karena alasan penjadwalan, Menlu Wang Yi tidak dapat berpartisipasi dalam seluruh proses pertemuan menteri luar negeri China-ASEAN. Pejabat senior Tiongkok akan menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN Plus Three, KTT Asia Timur, dan Pertemuan Menteri Luar Negeri Forum Regional ASEAN atas nama Menlu Wang Yi," ungkap Lin Jian.

Ia juga menyebut tidak ada pertemuan bilateral antara Wang Yi dengan perwakilan Jepang di Manila.

Hubungan antara Beijing dan Tokyo menjadi tegang sejak komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025 soal setiap tindakan militer China terhadap Taiwan dapat menjadi alasan bagi Jepang untuk mengaktifkan militernya. China pun membalas dengan sejumlah prostes diplomatik dan ekonomi terhadap Jepang.

Baca juga: Kemlu: Insiden di Laut China Selatan tegaskan relevansi ASEAN

Baca juga: China: personel Filipina "terdampar" ilegal di Laut China Selatan

Baca juga: Filipina ajukan protes ke China atas insiden di Laut China Selatan

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |