Pemerintah butuh Rp135 triliun untuk 14 proyek PLTS tahap awal (5,3 GWp).(Dok. YouTube Sekretariat Presiden)
PEMERINTAH membutuhkan investasi sekitar Rp135 triliun (setara 7,7 miliar dolar AS) untuk membangun 14 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas total 5,3 gigawatt-peak (GWp). Proyek ini merupakan tahap awal dari program ambisius pengembangan PLTS 100 GWp di Indonesia.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan rencana tersebut saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau PLTS Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8). Dalam peninjauan tersebut, Presiden turut didampingi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Dirut PLN Darmawan Prasodjo, dan Gubernur Bali Wayan Koster.
Program PLTS 100 GWp dirancang dengan memanfaatkan lahan darat, waduk, serta atap bangunan rumah dan industri. Skenario pengembangan ini difokuskan untuk mengurangi hingga mengeliminasi penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di berbagai wilayah guna menekan emisi dan biaya operasional.
Pembangunan 14 proyek tahap awal ini diproyeksikan mampu menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp4,6 triliun per tahun. Selain efisiensi anggaran, program ini bertujuan memperluas akses listrik perdesaan, mendukung hilirisasi, serta menopang ekosistem kendaraan listrik dan kompor induksi.
"Beberapa proyek telah menunjukkan hasil nyata, seperti peresmian PLTS di Pulau Rengit dan Pulau Sembur yang berhasil menggantikan diesel secara penuh," ujar Eniya. Di Pulau Sembur, energi surya bahkan telah digunakan untuk fasilitas cold storage guna mendukung aktivitas ekonomi nelayan setempat.
Secara keseluruhan, total investasi yang dibutuhkan untuk mencapai target 100 GWp diperkirakan mencapai 73 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.140 triliun. Meski membutuhkan dana besar, program ini berpotensi menciptakan efisiensi subsidi listrik sebesar Rp73,9 triliun per tahun.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan PLTS 100 GWp dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Namun, Presiden berharap pengerjaan proyek strategis nasional ini dapat dipercepat menjadi dua tahun untuk mengakselerasi transisi energi nasional. (Ant/Z-10)











































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)






