Dorong Industri Game Indonesia Rambah Pasar Global

2 hours ago 4
Dorong Industri Game Indonesia Rambah Pasar Global Ilustrasi(Dok Istimewa)

ROYAL Melbourne Institute of Technology (RMIT) University bekerja sama dengan Pemerintah Negara Bagian Victoria, Australia, mempertemukan Asosiasi Game Indonesia (AGI) dan pengembang game Agate untuk memperkuat ekosistem industri game nasional agar mampu bersaing di tingkat global.

Langkah ini diambil mengingat Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar dengan sekitar 153 juta pemain game dan nilai ekonomi mencapai US$1,9 miliar.

Direktur RMIT Indonesia, Tantia Dian Permata Indah, mengungkapkan bahwa Indonesia telah membuktikan kapasitas kreasinya dengan menyumbang 203 judul game independen sepanjang tahun 2019–2025, atau setara sepertiga dari total produksi game independen di Asia Tenggara.

Namun, besarnya pasar domestik dan talenta kreatif tersebut dinilai belum diimbangi oleh kemampuan bisnis serta akses pendanaan yang memadai bagi studio lokal.

"Indonesia telah memiliki pasar yang besar, talenta kreatif yang kuat, serta ekosistem pengembangan game yang terus bertumbuh. Langkah berikutnya adalah memastikan para pengembang dan pendiri studio tidak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga kemampuan bisnis dan wawasan internasional," ujar Tantia dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).

Tantia menjelaskan bahwa industri game Tanah Air masih menghadapi sejumlah tantangan krusial, seperti keterbatasan talenta tingkat lanjut, kemampuan kepemimpinan bisnis, hingga kesenjangan strategi pasar.

Pasar domestik Indonesia saat ini sangat didominasi oleh game mobile, sedangkan mayoritas studio lokal justru fokus mengembangkan game PC dan konsol premium untuk pasar ekspor.

Oleh karena itu, studio lokal membutuhkan kombinasi kompetensi yang lebih luas di luar posisi programmer dan designer, seperti manajer produksi (producer), spesialis pemasaran, hingga pemimpin bisnis yang mampu menarik investor internasional.

"Kemampuan teknis tetap menjadi fondasi, tetapi tidak lagi cukup jika berdiri sendiri. Indonesia membutuhkan jalur yang lebih kuat untuk menghubungkan pendidikan dengan tantangan nyata di industri, sehingga talenta dapat memahami bagaimana produk kreatif dikembangkan, dibiayai, dan dipasarkan," tegas Tantia.

Perkuat Kolaborasi Lewat RMIT Southeast Asia Hub

Guna menjembatani kesenjangan tersebut, RMIT berkomitmen memperluas jaringan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan melalui pembentukan RMIT Southeast Asia Hub.

Platform ini akan menghubungkan pemangku kepentingan di Indonesia, Australia, dan kawasan Asia Tenggara untuk memfasilitasi riset terapan, peningkatan keterampilan (upskilling), serta pengembangan kewirausahaan digital.

Sebelumnya, RMIT juga telah menjalin kemitraan strategis di Indonesia, termasuk menyelenggarakan pelatihan desain game bersama Ekonomi Kreatif (EKRAF) dan Apple, serta program pengembangan animasi dan kewirausahaan bersama Infinite Learning.(H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |