Video tersebut memperlihatkan petugas menutup paksa pintu samping pengemudi seiring asap mengepul dari sisi penumpang(B'Tselem)
KEPOLISIAN Israel resmi membuka penyelidikan setelah beredarnya rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang petugas Polisi Perbatasan melemparkan sebuah granat kejut ke dalam mobil warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Dalam video tersebut, petugas tampak mendekati sebuah mobil di kamp pengungsian Palestina, Qalandia, lalu meneriaki orang-orang di dalamnya. Setelah terjadi adu mulut singkat, ia melemparkan granat kejut melalui pintu yang terbuka dan memaksa pintu tersebut tertutup saat pengemudi mencoba keluar. Tak lama kemudian, ledakan terjadi dan asap terlihat mengepul dari dalam kendaraan.
Dua penumpang di dalamnya berhasil meloloskan diri dari sisi pintu lain sebelum petugas tersebut tampak melepaskan tembakan dengan senapannya saat mereka tiarap mencari perlindungan. Kelompok hak asasi manusia Israel, B'Tselem, memastikan semua orang yang berada di dalam mobil tersebut selamat.
Pihak kepolisian menyatakan kepada media Israel bahwa petugas tersebut bertindak tidak sesuai dengan ketentuan.
"Sesuai dengan prosedur," kata kepolisian mengenai tindakan petugas itu, seraya menambahkan bahwa insiden tersebut kini telah dilimpahkan ke departemen investigasi internal kepolisian.
Rangkaian Insiden Berdarah di Tepi Barat
Dalam insiden terpisah di Qalandia, pasukan Israel dilaporkan menembak mati seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun bernama Walid Abu Sneineh. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, dua anak lainnya juga mengalami luka tembak di bagian kaki.
Otoritas Israel berdalih kepada BBC bahwa pasukannya merasakan adanya ancaman langsung terhadap nyawa mereka setelah "kerusuhan hebat pecah yang membuat [mereka] dihujani lemparan batu secara masif." Mereka mengeklaim pasukan merespons dengan tembakan ke arah "seorang tersangka yang melemparkan batu ke arah mereka dari atap gedung."
Ketegangan di wilayah tersebut kian diperparah oleh kematian seorang bayi berusia empat bulan yang sakit kritis, Ahmed Zaid. Kepala kantor hak asasi manusia PBB setempat, Ajith Sunghay, menyebut bayi tersebut meninggal setelah tentara Israel menolak membuka gerbang penghalang di pintu masuk utama desanya di sebelah barat Ramallah, sehingga menghambat akses menuju perawatan medis darurat. Sebuah ambulans dilaporkan telah menunggu di sisi lain gerbang di luar Deir Ammar untuk membawa Ahmed ke rumah sakit.
Sunghay mengecam keras kejadian tersebut dan menyebut kematian sang bayi sebagai hal yang tidak masuk akal.
"Sia-sia" dan "menjadi simbol dari kekuatan pendudukan yang terus menunjukkan pengabaian mutlak terhadap kemanusiaan dan hak-hak warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan," tegas Sunghay.
Kendati demikian, militer Israel membantah tuduhan tersebut dan mengeklaim kepada BBC bahwa pasukannya "mengizinkan bayi dan keluarganya lewat tanpa penundaan untuk terus menerima perawatan medis." (BBC/Z-2)

















































