Vaksin Semprot Hidung Johns Hopkins Ampuh Cegah TB Kambuh

2 weeks ago 13
Vaksin Semprot Hidung Johns Hopkins Ampuh Cegah TB Kambuh Ilustrasi bakteri tuberkulosis (TB) karya seniman. Vaksin terapeutik intranasal baru melawan TB, yang dikembangkan oleh para peneliti Johns Hopkins, telah terbukti pada tikus dapat membersihkan bakteri lebih cepat, mengurangi peradangan paru-paru, dan menc(Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS)

PENYAKIT tuberkulosis (TB) hingga kini masih menjadi salah satu krisis kesehatan global terbesar di dunia. Meskipun pengobatan menggunakan antibiotik telah tersedia, banyak pasien mengalami kekambuhan akibat adanya bakteri yang mampu "bersembunyi" dan kebal terhadap pengobatan standar.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Johns Hopkins Medicine dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health berhasil mengembangkan inovasi medis terbaru. Mereka menciptakan vaksin DNA terapeutik eksperimental untuk TB yang diberikan melalui hidung (intranasal). Vaksin semprot ini dirancang khusus untuk memperkuat sistem imun tubuh dalam melacak dan menghancurkan bakteri TB yang toleran terhadap obat, yang sering disebut sebagai bakteri "persister".

Bakteri persister inilah yang selama ini menjadi biang keladi karena mampu bertahan hidup di dalam tubuh meskipun pasien telah menjalani pengobatan antibiotik dalam jangka panjang, lalu memicu penyakit aktif kembali di kemudian hari.

Dalam uji coba laboratorium pada hewan model (tikus), vaksin DNA terapeutik ini menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Ketika diberikan bersamaan dengan rejimen obat lini pertama, vaksin ini mampu mempercepat pembersihan infeksi bakteri secara stabil, mengurangi peradangan pada paru-paru, serta mencegah terjadinya kekambuhan pasca-pengobatan. Tidak hanya itu, vaksin ini juga terbukti meningkatkan efektivitas kinerja obat-obatan yang digunakan untuk melawan TB yang resistan terhadap multi-obat (multidrug-resistant TB).

Secara biologis, vaksin ini bekerja dengan menggabungkan gen respons ketat TB (relMtb) dengan gen yang menyandikan kemokin penarget sel dendritik bernama Mip3? (atau CCL20). Kombinasi unik ini menghasilkan sinyal kuat di dalam saluran pernapasan yang bertugas menarik sel dendritik imatur, yakni sel imun kunci yang akan menangkap protein TB dan "memperkenalkannya" kepada sel T untuk mengoordinasikan serangan langsung yang terarah.

Langkah pengujian kemudian dilanjutkan pada primata bukan manusia (rhesus macaques), yang merupakan standar emas dalam evaluasi pra-klinis vaksin TB. Hasilnya, vaksin semprot hidung ini berhasil memicu respons imun spesifik TB yang terukur, baik di dalam aliran darah maupun di saluran udara (paru-paru), yang bertahan setidaknya selama enam bulan.

Kehadiran inovasi ini sejalan dengan seruan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mendesak pengembangan vaksin terapeutik baru untuk melengkapi pengobatan antibiotik yang ada. Vaksin semacam ini diharapkan dapat mempersingkat masa pengobatan TB yang selama ini terkenal lama dan melelahkan bagi pasien, sekaligus membendung penyebaran varian TB yang kebal obat. (Science Daily/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |