Tiongkok Uji Coba Rudal Nuklir Kapal Selam di Pasifik, Picu Alarm Sekutu AS

2 weeks ago 15
Tiongkok Uji Coba Rudal Nuklir Kapal Selam di Pasifik, Picu Alarm Sekutu AS Xi Jinping.(Al Jazeera)

TIONGKOK melakukan uji coba peluncuran rudal jarak jauh dari kapal selam bertenaga nuklir ke wilayah Samudra Pasifik pada Senin (6/7). Langkah ini merupakan demonstrasi pertama yang diketahui publik mengenai kemampuan serangan nuklir strategis berbasis laut Beijing, yang langsung memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Amerika Serikat (AS).

Pejabat Tiongkok dan media pemerintah melaporkan bahwa rudal yang membawa hulu ledak tiruan tersebut diluncurkan pada pukul 12.01 waktu Beijing. Negara-negara di kawasan, termasuk Jepang, Australia, dan Selandia Baru, menerima pemberitahuan sesaat sebelum uji coba dilakukan. Namun, belum dapat dipastikan apakah pemerintah Tiongkok memberikan notifikasi serupa kepada Amerika Serikat sebelumnya.

Juru bicara Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), Kapten Senior Wang Xuemeng, menyatakan melalui media sosial bahwa peluncuran ini mematuhi hukum dan praktik internasional. "Uji coba ini tidak ditujukan kepada negara atau target spesifik mana pun," tegasnya. Hingga saat ini, lokasi pasti jatuhnya rudal di Pasifik belum terungkap.

Melengkapi Triad Nuklir

Peluncuran ini menandai langkah signifikan dalam upaya Beijing membangun triad nuklir, yakni kemampuan untuk meluncurkan senjata nuklir dari darat, udara, dan laut. Sebelumnya pada tahun 2024, PLA meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) berbasis darat yang menempuh jarak sekitar 7.300 mil hingga ke perairan dekat Polinesia Prancis.

Dengan keberhasilan peluncuran dari kapal selam ini, Beijing kini hanya perlu mendemonstrasikan kaki udara dari triad nuklirnya untuk mencapai kapabilitas penuh. Analis menduga rudal yang digunakan adalah tipe JL-2 atau JL-3 terbaru, yang memiliki jangkauan estimasi 5.000 hingga 8.000 mil, sehingga mampu menjangkau kota-kota besar di AS tergantung lokasi peluncurannya.

Kecaman dari Sekutu AS

Uji coba tersebut memicu kecaman cepat dari para sekutu AS yang menilai tindakan tersebut membahayakan stabilitas regional. Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, memperingatkan bahwa tindakan destabilisasi dapat menyebabkan salah perhitungan yang berbahaya.

"Uji coba ini terjadi di tengah pembangunan militer Tiongkok yang pesat, yang kurang dalam transparansi dan jaminan mengenai niatnya," ujar Wong. Senada dengan Australia, Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters menyatakan peluncuran tersebut tidak konsisten dengan stabilitas kawasan, sementara Jepang mendesak Beijing untuk mempertimbangkan kembali kebijakan militernya.

Peluncuran ini juga bertepatan dengan penandatanganan pakta pertahanan bersama antara Australia dan Fiji, serta berlangsung saat AS sedang menjadi tuan rumah latihan militer Rim of the Pacific (RIMPAC) di Hawaii yang melibatkan lebih dari 30 negara.

Sinyal Strategis untuk Washington

Tong Zhao, pakter program senjata nuklir Tiongkok di Carnegie Endowment for International Peace, menilai peluncuran ini merupakan sinyal eksplisit bagi Amerika Serikat. "Strategi Tiongkok adalah memamerkan kekuatan nuklir strategis agar Washington lebih menyadari risiko jika terlibat dalam konflik besar dengan Tiongkok," jelasnya.

Zhao menambahkan bahwa jalur penerbangan rudal yang melewati fasilitas pelacakan rudal AS di Guam dan Kepulauan Marshall menunjukkan bahwa Beijing tidak khawatir parameter teknis rudal mereka dikumpulkan oleh intelijen AS. Hal ini mempertegas posisi Beijing dalam pencegahan nuklir, terutama terkait potensi konflik di Taiwan atau Laut Tiongkok Selatan.

Di sisi lain, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyatakan keprihatinannya. "Di saat AS bekerja keras mencegah proliferasi nuklir, Tiongkok justru melakukan sebaliknya," kata Pigott. Ia mendesak Beijing untuk berkomitmen pada sistem notifikasi yang lebih teratur guna menghindari ketegangan yang tidak perlu.

Catatan Redaksi: Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Tiongkok melalui juru bicara Mao Ning meminta negara-negara terkait untuk tidak menafsirkan secara berlebihan niat di balik uji coba tersebut. (Washington Post/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |