Ilustrasi(Magnific)
PERNAHKAH Anda melihat anak Anda sedang mengerjakan tugas sekolah, lalu semenit kemudian beralih memeriksa notifikasi ponsel, dan beberapa detik setelahnya sudah asyik menonton video pendek di TikTok atau Instagram Reels? Jika ya, anak Anda mungkin sedang mengalami fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah popcorn brain.
Istilah popcorn brain pertama kali dicetuskan oleh David Levy, seorang ilmuwan komputer dari University of Washington. Istilah ini merujuk pada kondisi mental di mana pikiran seseorang terus melompat-lompat dari satu pemikiran atau tugas ke tugas lainnya dengan sangat cepat, mirip seperti biji jagung yang meletup-letup saat dipanaskan di dalam mesin pembuat popcorn.
Kondisi ini dipicu oleh paparan media sosial yang berlebihan dan bunyi notifikasi digital yang terus-menerus. Otak manusia secara alami dirancang untuk mengejar stimulasi baru. Akibatnya, setiap kali anak menerima likes, komentar, atau menonton video berdurasi singkat yang menarik, otak melepaskan hormon dopamin, zat kimia yang memicu rasa senang.
Siklus ini melatih otak anak untuk terbiasa dengan stimulasi instan dan berkecepatan tinggi. Sisi buruknya, kehidupan nyata yang berjalan lebih lambat menjadi terasa sangat membosankan bagi mereka.
Meskipun popcorn brain bukan merupakan diagnosis medis resmi layaknya ADHD, para pakar memperingatkan bahwa fenomena ini meniru perilaku gangguan konsentrasi. Anak-anak yang mengalami kondisi ini akan menunjukkan gejala seperti rentang perhatian yang sangat pendek, kesulitan mengikuti instruksi yang berlapis, kelelahan mental, hingga meningkatnya rasa cemas. Ketika dihadapkan pada situasi tradisional seperti mendengarkan penjelasan guru di ruang kelas, mereka akan menjadi cepat bosan dan frustrasi.
Untuk mengatasi hal ini, orang tua tidak perlu langsung panik. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan membatasi atau menonaktifkan notifikasi yang tidak penting pada perangkat anak guna mengurangi interupsi digital.
Selain itu, buatlah kesepakatan mengenai zona dan waktu bebas teknologi di rumah. Misalnya, aturan tegas untuk tidak menggunakan gawai sama sekali saat berada di meja makan atau menjelang waktu tidur.
Hal yang tidak kalah penting adalah peran orang tua sebagai teladan. Orang tua harus mencerminkan perilaku digital yang sehat dengan cara meletakkan ponsel saat sedang berinteraksi langsung dengan anak. Melalui cara ini, anak akan belajar kembali untuk menikmati momen saat ini dan perlahan melatih kembali fokus mereka yang sempat terfragmentasi oleh dunia digital. (Parents/Z-2)

















































