Kendaraan terjebak kemacetan di ruas Cakung-Cilincing.(Antara)
Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai rekayasa lalu lintas (lalin) tetap diperlukan sebagai solusi untuk mengurai kemacetan parah yang kerap terjadi di kawasan Cakung-Cilincing. Namun, ia menekankan bahwa penerapannya harus dilakukan secara cermat dan tidak bersifat permanen.
Menurut Deddy, rekayasa tersebut harus bersifat sementara (temporer) dan disesuaikan dengan kondisi kepadatan di lapangan. Hal ini penting agar kebijakan tersebut tidak justru mengganggu kenyamanan pengguna jalan lainnya.
“Rekayasa lalu lintas tetap perlu dilakukan. Misalnya arus kendaraan dibuat satu arah atau aktivitas bongkar muat kontainer hanya diizinkan pada malam hari, misalnya mulai pukul 21.00,” ujar Deddy, Kamis (23/7).
Salah satu opsi yang diusulkan adalah pengaturan arus kendaraan menjadi satu arah pada waktu-waktu tertentu. Selain itu, ia menyoroti pentingnya pengaturan aktivitas bongkar muat serta pergerakan truk kontainer agar tidak dilakukan pada jam-jam sibuk saat volume kendaraan pribadi dan umum sedang tinggi.
Deddy menegaskan bahwa rekayasa lalu lintas harus diterapkan secara proporsional. Ia mengingatkan bahwa kepentingan satu kelompok pengguna jalan, dalam hal ini angkutan logistik, tidak boleh mengorbankan kepentingan masyarakat luas yang menggunakan jalur yang sama.
“Rekayasa lalin tetap diperlukan karena tidak boleh merugikan pengguna jalan yang lain. Truk kontainer bukan kendaraan prioritas seperti mobil pemadam kebakaran atau ambulans,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa skema rekayasa ini sebaiknya hanya diaktifkan ketika terjadi eskalasi kepadatan yang tinggi. Dengan demikian, kelancaran arus lalu lintas di kawasan industri dan pelabuhan tersebut dapat terjaga tanpa harus membebani mobilitas publik secara terus-menerus.
“Rekayasa lalu lintas itu sifatnya hanya temporer ketika terjadi kemacetan tinggi saja,” pungkas Deddy. (E-3)

















































