Pemain Timnas Portugal Cristiano Ronaldo(AFP)
SETELAH berkarier di sepak bola internasional selama 23 tahun, mencatatkan 232 pertandingan, mengemas 146 gol, dan melewati enam edisi Piala Dunia, Cristiano Ronaldo akhirnya siap berdamai dengan waktu. Di usia 41 tahun, megabintang sekaligus kapten tim nasional Portugal itu mengonfirmasi bahwa pergelaran di Amerika Serikat ini akan menjadi panggung penutup karier legendarisnya.
Pernyataan retoris yang selama ini dihindarinya akhirnya meluncur dalam konferensi pers menjelang laga krusial babak 16 besar melawan Spanyol di Stadion Dallas, Arlington, Texas. Laga bertajuk Derbi Iberia yang akan disaksikan 80.000 pasang mata ini berpotensi menjadi tarian terakhir sang maestro.
"Ini akan menjadi Piala Dunia terakhir saya. Jika Tuhan mengizinkan, esok hari bukanlah pertandingan terakhir saya," ujar Ronaldo dengan nada tenang.
Bagi pemain yang telah memenangkan hampir seluruh trofi bergengsi di bumi ini, andai ia harus menyudahi karier tanpa pernah mengangkat trofi berlapis emas Piala Dunia, hal itu tidak akan mereduksi warisan kebesarannya.
"Saya tidak kekurangan apa pun dalam hidup; Tuhan telah teramat bermurah hati kepada saya. Status saya sebagai Cristiano tidak akan bertambah atau berkurang, baik saya memenangkan Piala Dunia ini ataupun tidak," tambahnya, merefleksikan kedewasaan seorang veteran.
Menertawakan Kritik
Dalam ruang konferensi pers yang dipadati awak media dari berbagai belahan dunia, Ronaldo tampil dengan pembawaan rileks, penuh kelakar, namun tetap menyisipkan sindiran tajam yang menjadi ciri khasnya. Menanggapi gelombang kritik yang kerap meragukan kapasitas fisiknya di usia berkepala empat, pemain berjuluk CR7 itu membalasnya dengan senyuman masam.
"Mereka (kritikus dan media) telah mencoba 'membunuh' karier saya selama 23 tahun. Namun, mencetak tiga gol di turnamen sebesar ini pada usia saya sekarang rasanya tidak terlalu buruk, bukan?" cetusnya dalam tiga bahasa berbeda.
Ronaldo memandang sinisme media justru sebagai katalis yang membentuk ketangguhan mentalnya selama lebih dari dua dekade. Dari laga debutnya yang bersahaja di hadapan 8,000 penonton di Chaves saat menggantikan Luis Figo pada tahun 2003, hingga panggung megah di Texas, tekanan telah menjadi asupan harian yang mendewasakannya.
"Saya bahkan berterima kasih atas setiap serangan dan kritik dari para jurnalis. Hal-hal tersebut yang memaksa saya bertransformasi menjadi pribadi yang lebih kuat dan terus bertumbuh," tuturnya.
Misi Menunda Akhir
Mantan penyerang Real Madrid dan Manchester United itu menegaskan bahwa dirinya tidak lagi memikul beban kewajiban untuk menang. Baginya, sepak bola di titik ini murni merupakan manifestasi dari gairah dan kecintaan mendalam pada olahraga kulit bundar. Ia bertekad menikmati sisa hari demi hari di turnamen ini dengan hati yang lapang.
Kendati demikian, fokus utama Ronaldo tetaplah membawa Selecao das Quinas melangkah sejauh mungkin. Pembebasan tugas dari ekspektasi publik justru menjadikannya figur yang lebih berbahaya bagi lini pertahanan Spanyol.
Skenario terburuk di Dallas nanti malam memang bisa menghentikan langkah Portugal sekaligus menutup buku sejarah Ronaldo di level internasional secara instan. Namun, sang kapten telah bersiap. Jika hari esok adalah akhir, ia akan melangkah keluar dari lapangan dengan kepala tegak, mengetahui bahwa ia telah memberikan 1.000% dari seluruh hidupnya untuk sepak bola.

















































