Salah satu tayangan Netflix yang mengambil tema kuliner, Bon Appétit, Your Majesty(MI/HO)
TAYANGAN kuliner kini tidak lagi sekadar visualisasi hidangan yang menggugah selera. Dari drama, dokumenter, hingga kompetisi memasak, genre ini telah bertransformasi menjadi medium bercerita yang kuat, memengaruhi cara penonton mengeksplorasi budaya, hingga menentukan destinasi wisata mereka selanjutnya.
Malobika Banerji, Netflix's Senior Director of Content, Southeast Asia, mengungkapkan bahwa kekuatan cerita kuliner terletak pada kemampuannya melibatkan seluruh indra penonton.
"Setiap hidangan menyimpan kisah tentang tradisi, komunitas, dan pengalaman di dapur. Tayangan kuliner menawarkan perpaduan menarik antara hiburan, koneksi emosional, dan eksplorasi budaya," ujarnya.
Fenomena Global: Dari Layar Menuju Reservasi Restoran
Pengaruh tayangan kuliner paling nyata terlihat pada pergeseran tren di dunia nyata. Serial kompetisi Culinary Class Wars, misalnya, mencetak sejarah sebagai konten unscripted Korea pertama yang memuncaki daftar Global Top 10 Netflix Non-English selama tiga minggu berturut-turut. Di Indonesia, antusiasme penonton membawanya bertahan di jajaran Top 10 selama delapan minggu.
Dampaknya tidak hanya berhenti pada angka penayangan. Berdasarkan data platform reservasi Catchtable, terjadi lonjakan signifikan pada bisnis kuliner yang terlibat dalam tayangan tersebut:
| Booking Restoran (Musim 1) | Rata-rata naik 148% |
| Booking & Waiting List (Musim 2) | Meningkat hingga 303% |
Selain kompetisi, drama seperti Bon Appétit, Your Majesty dan Tastefully Yours juga sukses menarik perhatian global. Tastefully Yours bahkan berhasil menduduki peringkat pertama di 23 negara, membuktikan bahwa perpaduan seni kuliner dengan narasi romansa memiliki daya tarik universal.
Kekuatan Kuliner Indonesia di Panggung Dunia
Indonesia, dengan kekayaan cita rasa tradisionalnya, turut mengambil peran penting dalam tren ini. Serial dokumenter Street Food: Asia (2019) menjadi salah satu pionir yang memperkenalkan kuliner legendaris Yogyakarta, seperti Lupis Mbah Satinem dan Gudeg Mbah Lindu, kepada audiens internasional. Hal ini secara langsung memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata gastronomi utama.
Memasuki 2026, narasi kuliner lokal semakin berkembang melalui serial Luka Makan Cinta. Berlatar di Bali, serial ini tidak hanya menampilkan estetika fine dining dari hidangan tradisional seperti Lontong Balap dan Lobster Sambal Matah, tetapi juga memotret realitas keras di balik dapur profesional.
| Total Penayangan Global | 2,4 Juta Penayangan |
| Jangkauan Top 10 Negara | 30 Negara |
| Durasi Top 10 di Indonesia | 5 Minggu Berturut-turut |
Perspektif Praktisi: Lebih dari Sekadar Rasa
Chef Jesselyn Lauwreen, pemenang MasterChef Indonesia Season 8, menilai perkembangan ini sebagai hal positif bagi industri. Menurutnya, tayangan kuliner saat ini jauh lebih personal dan emosional karena menyoroti perjuangan di balik setiap sajian.
"Kini, banyak orang bisa mengenal dan jatuh cinta pada sebuah masakan, restoran, atau chef bahkan sebelum mencobanya langsung. Ini mendorong generasi muda untuk lebih berani mengeksplorasi dunia kuliner," tutur Jesselyn.
Dengan kehadiran film seperti Aruna & Lidahnya hingga Rahasia Rasa di platform streaming, makanan telah terbukti menjadi medium efektif untuk mengeksplorasi identitas budaya sekaligus membangun koneksi antarmanusia yang melampaui batas negara. (Z-1)

















































