Petugas dari Manggala Agni Daops Sumatera XIV-Banyuasin berusaha memadamkan kebakaran lahan di Desa Simpang Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Jumat (17/7/2026).(Antara)
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, semakin mengintensifkan berbagai langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul meningkatnya risiko kebakaran selama puncak musim kemarau.
Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah di Pangkalan Bun, Jumat, menegaskan bahwa pencegahan menjadi fokus utama pemerintah daerah. Menurutnya, dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga kelancaran transportasi akibat kabut asap.
"Penanganan karhutla tidak bisa hanya dilakukan saat kebakaran sudah terjadi. Yang paling penting adalah memperkuat langkah pencegahan melalui kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, TNI-Polri, dunia usaha hingga masyarakat," kata Nurhidayah.
Ia menjelaskan, Pemkab Kotawaringin Barat terus memperkuat koordinasi lintas sektor dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat peduli api. Sinergi tersebut dilakukan untuk mempercepat deteksi dini sekaligus meningkatkan respons terhadap potensi kebakaran.
Selain memperkuat koordinasi, pemerintah daerah juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran. Nurhidayah menilai peningkatan kesadaran masyarakat menjadi salah satu kunci penting dalam menekan angka kejadian karhutla, khususnya di kawasan yang didominasi lahan gambut.
Pemerintah daerah juga menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah dan aparat kewilayahan agar meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah tersebut dilakukan melalui pemantauan wilayah rawan kebakaran, memastikan seluruh sarana dan prasarana penanggulangan dalam kondisi siap pakai, serta memperkuat patroli terpadu sepanjang musim kemarau.
Berdasarkan data BPBD Kotawaringin Barat, sejak Januari hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 63 kasus karhutla berhasil ditangani dengan total luas lahan terdampak mencapai sekitar 113,51 hektare. Data tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat upaya pencegahan agar kebakaran tidak meluas saat musim kemarau mencapai puncaknya.
Pemkab Kotawaringin Barat menilai keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya ditentukan oleh kecepatan proses pemadaman. Keberhasilan juga diukur dari efektivitas menekan jumlah titik api melalui deteksi dini, patroli rutin, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam melaporkan potensi kebakaran.
Di akhir keterangannya, Nurhidayah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi memicu terjadinya kebakaran. (Ant/E-4)

















































