Permata Bank Syariah dan DT Peduli menyerahkan dana Huntap Bireuen Rp660 Juta untuk merehabilitasi delapan unit hunian tetap (huntap) korban bencana di Bireuen, Aceh.(Dok. Permata Bank Syariah)
PENYALURAN bantuan rehabilitasi infrastruktur berupa pendanaan delapan unit hunian tetap (huntap) untuk korban bencana di Bireuen, Aceh, resmi dilaksanakan pada Senin (10/8). Serah terima dana kemanusiaan senilai total Rp660 juta tersebut dilangsungkan di sela agenda kajian publik di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
Program pemulihan ini difokuskan pada penyediaan tempat tinggal yang layak guna mempercepat fase transisi pascabencana bagi masyarakat terdampak di wilayah sasaran.
Realisasi pendanaan infrastruktur fisik tersebut merupakan hasil kerja sama antara sektor keuangan dan lembaga filantropi, yakni Permata Bank Syariah serta DT Peduli. Penyerahan simbolis dokumen kelengkapan bantuan disaksikan langsung oleh tokoh ulama KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) bersama jemaah kajian yang hadir.
Kolaborasi kelembagaan ini dirancang untuk mengonversi dana sosial masyarakat menjadi bentuk bangunan fungsional yang mampu menjamin keamanan keluarga penerima manfaat.
Group Head Sharia Business Unit Permata Bank, Muhammed Pinto, menyatakan bahwa penyediaan fasilitas hunian tetap merupakan wujud kepedulian korporasi pada sektor pemenuhan kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat sipil.
"Delapan unit rumah ini kami proyeksikan sebagai fondasi awal bagi warga Bireuen untuk dapat kembali menggerakkan aktivitas sosial dan ekonominya secara mandiri," ungkap Pinto.
Ia menambahkan, realisasi program pembiayaan ini merupakan bentuk komitmen perbankan dalam mendistribusikan manfaat secara langsung ke wilayah sasaran.
Terkait sistem tata kelola dana sosial, Ketua UPZDK Permata Bank Syariah, Awaludin Gumbira, menekankan pentingnya penerapan prinsip akuntabilitas manajerial secara menyeluruh. Ia memastikan setiap instrumen pendanaan publik diawasi secara terukur melalui sistem audit internal guna menjamin transparansi serta standar kepatuhan syariah.
Langkah manajerial ini diterapkan secara konsisten untuk menjaga integritas penyaluran dana kemanusiaan agar terdistribusi akurat kepada daftar penerima manfaat yang terverifikasi.
Dari perspektif pengembangan ekosistem bisnis syariah, Permata Bank Syariah menilai pelibatan lintas kelembagaan sangat krusial dalam merespon kondisi darurat kebencanaan.
Kemitraan strategis yang terjalin antar lembaga dinilai mampu memperbesar skala efektivitas dari setiap program pemulihan stabilitas wilayah pascabencana di daerah rawan. Permata Bank Syariah terus berupaya memperluas jaringan kolaborasi fungsional serupa guna mengoptimalkan pemerataan distribusi pendanaan sosial pada skala penanganan krisis tingkat nasional.
Sebagai mitra pelaksana proyek di lapangan, Direktur Utama DT Peduli, Jajang Nurjaman, menyatakan kesiapan organisasinya untuk mengeksekusi tahapan konstruksi bangunan secara presisi.
"Kami bertanggung jawab penuh mengawal seluruh proses pembangunan fisik huntap di Bireuen agar memenuhi kualifikasi standar kelayakan hunian pascabencana," tutur Jajang.
Ia menegaskan operasional teknis di lapangan akan dipantau ketat guna memastikan penyelesaian proyek sesuai dengan rancangan waktu yang disepakati.
Integrasi manajerial antara institusi keuangan syariah dan lembaga amil zakat terbukti menjadi salah satu skema krusial dalam akselerasi pemulihan kawasan pascabencana alam.
Pembangunan delapan unit hunian di kawasan Bireuen tersebut diharapkan menjadi stimulus langsung bagi kebangkitan kembali roda ekonomi warga sekitar. Fasilitas bangunan ini akan segera diserahterimakan kepada keluarga yang terdata setelah seluruh tahap penyelesaian teknis dinyatakan rampung secara komprehensif. (E-1)

















































