Asap terlihat mengepul dari puing-puing di lokasi kecelakaan helikopter militer dekat Salado, Texas, pada hari Rabu, 12 Agustus.(Cliff Coleman/Kantor Sheriff Bell County)
HELIKOPTER tempur Apache milik Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) mengalami lonjakan angka kecelakaan yang mendekati rekor tertinggi sepanjang sejarah. Analisis data kecelakaan militer menunjukkan bahwa lonjakan ini terjadi di tengah ditemukannya masalah meluas pada sistem transmisi helikopter tersebut.
Sejak Oktober, helikopter jenis Apache telah mengalami lima kecelakaan berat. Salah satu insiden paling mematikan terjadi pada awal bulan ini di Texas yang menewaskan dua prajurit, memicu kebakaran hutan, serta memaksa Angkatan Darat AS menghentikan sementara penerbangan latihan rutin bagi para pilot Apache. Dengan adanya insiden di Texas tersebut, tahun fiskal 2026 berada dalam jalur untuk menjadi tahun terburuk kedua bagi kecelakaan penerbangan Apache sejak varian baru AH-64 diperkenalkan pada tahun 2011.
Angkatan Darat AS mengumumkan bahwa penghentian sementara penerbangan latihan rutin tersebut telah berakhir pada Rabu, dengan pengecualian bagi unit-unit yang ditugaskan di Timur Tengah.
Tingkat kecelakaan berat Apache pada tahun ini, yang dalam istilah Angkatan Darat disebut sebagai kecelakaan Class A, yaitu insiden yang mengakibatkan kematian, cacat permanen, hilangnya pesawat, atau kerugian materiil minimal US$2,5 juta, telah melampaui rata-rata tahunan. Angka tersebut bahkan mendekati tingkat kecelakaan terparah pada tahun fiskal 2024.
Berdasarkan data yang dianalisis, tingkat kecelakaan berat Apache pada tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 6,24 per 100.000 jam terbang, dengan total lima insiden Class A hingga pertengahan Agustus. Sebagai pembanding, tingkat kecelakaan pada tahun fiskal 2024 mencapai 7,02 kecelakaan berat per 100.000 jam terbang dari total sembilan insiden yang terjadi.
Pada tahun fiskal 2024, Angkatan Darat AS mengaitkan rentetan kecelakaan dengan human error akibat menurunnya pengalaman pilot di tengah intensitas latihan yang meningkat pasca-invasi Rusia ke Ukraina. Namun, penyebab lonjakan kecelakaan pada tahun ini dinilai lebih rumit. Buletin keselamatan penerbangan resmi Angkatan Darat edisi Juli menyebutkan bahwa lebih dari separuh kecelakaan disebabkan oleh human error, tetapi juga mencatat adanya "kegagalan transmisi yang katastropik" dalam salah satu insiden Class A.
Secara khusus, helikopter Apache model E yang diperkenalkan pada tahun 2011 menghadapi masalah signifikan pada sistem transmisinya. Kerusakan pada komponen ini berpotensi merusak rotor belakang, mematikan daya listrik, serta merusak sistem hidrolik, yang dapat menyebabkan helikopter berputar tiba-tiba dan kehilangan kendali penerbangan.
Pesan keselamatan internal pada April mengidentifikasi 70 transmisi yang berpotensi bermasalah dan memerintahkan penghentian terbang bagi armada yang terdampak. Pesan susulan pada pertengahan Juli menambahkan 10 transmisi bermasalah lainnya. Secara akumulatif, masalah ini berdampak pada sekitar sepersepuluh dari total armada helikopter tempur Angkatan Darat AS.
Juru bicara Angkatan Darat AS, Mayor Montrell Russell, menolak memberikan rincian terkait penyelidikan transmisi maupun temuan awal penyebab kecelakaan di Fort Hood, Texas.
"Kami menyampaikan rasa duka yang mendalam atas gugurnya dua Prajurit di dekat Fort Hood," ujar Russell dalam sebuah pernyataan. Ia menambahkan bahwa perlindungan khusus membatasi penyampaian informasi teknis penerbangan kepada publik.
Sementara itu, pabrikan helikopter Apache, Boeing, telah menerjunkan tim ke depo pemeliharaan Angkatan Darat untuk membantu proses inspeksi dan perbaikan transmisi.
Pihak Boeing mengonfirmasi bahwa perusahaan tengah "mendukung penyelidikan Angkatan Darat AS untuk memastikan kesiapan operasional dan keselamatan setiap pesawat yang terdampak," tetapi menyerahkan pertanyaan lebih lanjut kepada pihak Angkatan Darat AS. (CNN/Z-2)

















































