Nestapa di Tasikmalaya, Satu Armada Tangki Dipaksa Melayani Dahaga Ribuan Warga

2 weeks ago 13
Nestapa di Tasikmalaya, Satu Armada Tangki Dipaksa Melayani Dahaga Ribuan Warga Kabupaten Tasikmalaya mengalami krisis air bersih parah. BPBD hanya memiliki satu armada tangki untuk melayani ribuan warga sembari menunggu restu bantuan BNPB.(Dok. Istimewa)

DI tengah terik matahari yang menyengat Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, deru mesin satu-satunya truk tangki air milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjadi suara yang paling dinanti sekaligus memilukan. Truk itu tidak pernah benar-benar beristirahat, namun bergerak dari fajar hingga larut malam, membelah perbukitan demi mengantarkan liter demi liter kehidupan bagi warga yang sumurnya telah berubah menjadi lubang debu.

Namun, realitas di lapangan jauh lebih besar daripada kapasitas tangki yang ada. Ketika truk sedang melayani warga di pelosok Bojonggambir, ribuan warga di Mangunreja dan Singaparna harus menahan dahaga lebih lama. Satu armada dipaksa bekerja melampaui batas kemampuannya, sementara restu birokrasi untuk penambahan armada dari pusat masih belum kunjung tiba.

Musim kemarau yang telah melanda selama tiga bulan terakhir telah memicu krisis air bersih yang meluas di Tasikmalaya. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih lama, yang berdampak langsung pada menyusutnya sumber air permukaan, sumur warga, hingga sektor pertanian dan perikanan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya hanya mengandalkan satu unit armada tangki air. Padahal, untuk cakupan wilayah Kabupaten Tasikmalaya yang luas dan berbukit, idealnya dibutuhkan minimal lima unit armada tambahan agar distribusi air bisa berjalan maksimal.

Menanti Restu dari BNPB dan Pemprov Jabar

Upaya untuk menambah kekuatan armada sebenarnya telah dilakukan sejak jauh hari. Roni menjelaskan bahwa BPBD Kabupaten Tasikmalaya telah mengajukan permohonan bantuan lima unit kendaraan tangki air kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat sejak awal Januari 2026.

"Kami sudah mengajukan 5 unit armada tangki air di awal Januari 2026 ke Provinsi Jabar dan BNPB pusat, tapi bantuan masih menunggu," ujar Roni AKS pada Senin (6/7/2026). Keterlambatan ini membuat pasokan air ke wilayah-wilayah terdampak menjadi tidak maksimal, terutama karena jarak tempuh antar lokasi yang berjauhan dan medan yang sulit di dataran tinggi.

Meskipun terkendala armada, BPBD tetap berupaya melakukan koordinasi lintas sektoral. Kerja sama dilakukan dengan Perumda Tirta Sukapura, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), hingga pihak swasta untuk menutupi kekurangan fasilitas distribusi.

Data Krisis Air Kabupaten Tasikmalaya (Juli 2026):

  • Durasi Kemarau: 3 Bulan
  • Armada Aktif: 1 Unit Tangki Air
  • Kebutuhan Armada: Minimal 5 Unit Tambahan
  • Total Distribusi: 100.000 Liter (hingga Juli 2026)
  • Wilayah Terdampak Parah: Bojonggambir (2.000 KK), Mangunreja, Singaparna, dan Cineam.

Dampak Sosial dan Prosedur Bantuan

Krisis air ini paling dirasakan oleh warga di Kecamatan Bojonggambir, di mana terdapat sekitar 2.000 Kepala Keluarga (KK) yang sangat bergantung pada kiriman air bersih. Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, BPBD mengimbau para Kepala Desa dan Camat untuk segera mengirimkan surat permohonan bantuan air bersih secara resmi.

Langkah ini diperlukan sebagai dasar administrasi bagi BPBD untuk memetakan skala prioritas pengiriman. "Kami mengimbau Kades dan Camat supaya membuat surat permohonan bantuan air bersih. BPBD akan menyiapkan armada tangki air bagi warga meski kendaraan sangat minim," tambah Roni.

Tabel: Wilayah Prioritas Distribusi Air Bersih

Kecamatan Status Dampak Keterangan
Bojonggambir Sangat Tinggi 2.000 KK terdampak, lokasi dataran tinggi.
Mangunreja Tinggi Penyusutan sumur gali warga.
Singaparna Tinggi Kebutuhan domestik (masak/minum) mendesak.
Cineam Sedang-Tinggi Distribusi air bersih berkala.

Krisis air di Kabupaten Tasikmalaya bukan sekadar fenomena alam tahunan, melainkan potret keterbatasan infrastruktur darurat di daerah. Dengan hanya satu armada yang beroperasi 24 jam, petugas di lapangan berpacu dengan waktu dan kelelahan. Harapan kini tertuju pada pemerintah pusat dan provinsi agar segera merealisasikan bantuan armada tangki air guna mencegah nestapa warga semakin berlarut di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda akan berakhir. (AD/I-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |