Mitra dan relawan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bakal menggelar aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat.(Dok istimewa )
MITRA dan relawan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bakal menggelar aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Rabu (8/7). Massa yang tergabung dalam Presidium Relawan, Mitra, dan Simpatisan Dukung Keberlanjutan MBG mengklaim aksi itu akan diikuti hingga 1 juta peserta.
Koordinator Presidium, Ahmad Yazdi, mengatakan aksi digelar sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan Program MBG di tengah berbagai polemik yang muncul belakangan. Peserta disebut berasal dari pekerja dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mitra, pemasok, relawan, petani, hingga orang tua penerima manfaat.
“Massa tidak hanya berasal dari Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, tetapi juga dari Lampung, Sumatera Selatan, Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi,” kata Yazdi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/7).
Ia menyebut aksi tersebut merupakan puncak dari berbagai gerakan dukungan terhadap MBG yang selama ini berlangsung di sejumlah daerah.
Menurutnya, aksi itu menjadi bukti bahwa program tersebut masih mendapat dukungan luas dari masyarakat. Dalam aksinya, mereka membawa empat tuntutan.
Pertama, mendukung keberlanjutan MBG sebagai program strategis menuju Generasi Emas 2045 sekaligus penggerak ekonomi rakyat.
Kedua, mendesak pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) memfasilitasi forum diskusi bersama mitra, pemasok, relawan, dan pemangku kepentingan untuk memperbaiki tata kelola program.
Ketiga, meminta pemerintah mempercepat operasional dapur SPPG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Keempat, mendesak DPR segera menyusun undang-undang tentang MBG agar program memiliki kepastian hukum bagi seluruh pihak yang terlibat. Yazdi juga menepis anggapan bahwa peserta aksi merupakan massa bayaran. Menurutnya, relawan yang datang dari berbagai daerah memang layak difasilitasi biaya transportasi.
“Kalau memang orang ingin datang menyuarakan aspirasinya, tetapi tidak punya ongkos, ya harus dikasih,” ujarnya.
Ia bahkan mengajak mitra MBG yang memiliki kemampuan finansial untuk membantu biaya transport para relawan.
"Kami menyerukan kepada mitra-mitra yang bergabung dengan program MBG, bekali para relawannya dengan uang dan transport jangan sedikit. Kalau perlu Rp500 ribu satu relawan, kalau memang punya rezeki,” katanya.
Menurut Yazdi, bantuan transportasi tidak dapat diartikan sebagai praktik massa bayaran. Sebab, banyak peserta merupakan pekerja dapur dengan kemampuan ekonomi terbatas yang tetap ingin menyuarakan dukungan terhadap keberlanjutan Program MBG. Ia menegaskan aksi tersebut merupakan gerakan moral dari para pelaku yang terlibat langsung dalam ekosistem MBG. (E-4)

















































