Merajut Asa dari Kain Sisa

2 weeks ago 16
Merajut Asa dari Kain Sisa Proses pembuatan kain marmer.(Dok. Instagram @adriebasuki.id)

LIMBAH tekstil menjadi jalan keluar bagi puluhan korban pinjaman online (pinjol) di Bogor untuk bangkit secara ekonomi. Di bawah arahan desainer Adrie Basuki, mereka mengolah sisa kain menjadi produk fesyen bernilai jual hingga mampu membangun usaha sendiri.

Adrie mengatakan, program tersebut berawal dari riset yang dilakukannya sejak 2019 untuk mengolah sisa kain produksi fesyen menjadi material baru. Temuan itu diberi nama kain marmer.

Dalam prosesnya, ia melibatkan masyarakat lokal, termasuk para perempuan di Kampung Perca.

"Semua sisa kain dari pembuatan pola maupun pakaian bekas kami cacah. Setelah itu, bahan tersebut disusun kembali di atas kain tulle dan dijahit dengan teknik quilting hingga menjadi kain baru," kata Adrie, saat ditemudi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain dikerjakan oleh tim internal, proses produksi juga melibatkan sekitar 30 perempuan di Kampung Perca. Mereka merupakan korban pinjol yang kemudian dilatih mengolah limbah tekstil menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari kain marmer hingga aneka kerajinan berbahan kain perca.

Menurut Adrie, kolaborasi tersebut tidak hanya membuka peluang usaha, tetapi juga meningkatkan keterampilan para anggotanya. Kini mereka tidak lagi sekadar membuat produk daur ulang, melainkan sudah mampu menjahit busana sendiri, seperti gamis.

"Dulu mereka hanya bekerja di lantai tiga sebuah konveksi yang sudah tidak terpakai. Sekarang mereka sudah punya galeri, bisa berjualan, bahkan membuat produk fesyen sendiri. Itu menurut saya perkembangan yang sangat baik," ujarnya.

Adrie menuturkan, setiap mengikuti pameran maupun peragaan busana, ia selalu membawa nama Kampung Perca.

Langkah itu membuat komunitas tersebut semakin dikenal dan lebih mudah memperoleh dukungan dari berbagai pihak.

Menurutnya, upaya tersebut membuahkan hasil. Kampung Perca mendapat bantuan sekitar 20 mesin jahit, pembangunan galeri, serta dukungan dari sejumlah instansi. Fasilitas itu membuat para anggotanya memiliki tempat produksi dan penjualan yang lebih layak.

"Saya mungkin hanya mengajarkan bagaimana kain sisa bisa diolah menjadi produk baru. Tetapi karena saya selalu membawa nama Kampung Perca ke setiap show, mereka jadi lebih mudah mendapatkan bantuan dan berkembang," katanya.

Adrie mengatakan, inspirasi menciptakan kain marmer berawal dari pengalamannya mempelajari pengolahan limbah plastik. Dari situ, ia meyakini limbah tekstil juga dapat diolah menjadi material baru yang memiliki nilai tambah.

Kain marmer yang dikembangkannya kini menjadi salah satu ciri khas karya Adrie Basuki. Motifnya terinspirasi dari lapisan bumi sebagai bentuk ajakan untuk kembali menghargai alam melalui praktik fesyen yang lebih berkelanjutan. Konsep tersebut sejalan dengan fokus Adrie pada proses produksi zero waste dan pemberdayaan perempuan melalui Kampung Perca.

Terinspirasi dari Kehilangan Sang Ayah

Tak hanya menghadirkan karya yang berdampak secara sosial dan lingkungan, Adrie Basuki juga terus menghadirkan pesan-pesan kemanusiaan melalui setiap koleksinya.

Pada ajang JF3 Fashion Festival 2026, desainer tersebut mengangkat isu kesehatan melalui koleksi batik bertajuk "Jantung Nadi" sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit jantung.

Koleksi tersebut akan diperkenalkan dalam ajang JF3 2026. Adrie mengatakan tema penyakit jantung dipilih karena menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia sekaligus memiliki kedekatan dengan pengalaman pribadinya.

“Salah satu alasannya karena almarhum ayah saya juga meninggal karena penyakit jantung. Penyakit jantung itu pembunuh yang paling tersembunyi, tetapi juga paling besar di Indonesia. Mudah-mudahan batik ini bisa mengingatkan kita semua untuk selalu menjaga kesehatan," kata Adrie.

Ia menjelaskan, "Jantung Nadi" menjadi koleksi ketiga yang mengangkat isu kesehatan. Sebelumnya, Adrie pernah menghadirkan koleksi bertema cancer survivor dan kesehatan mental (mental health).

Dalam peragaan busana nanti, karya tersebut tidak hanya dikenakan oleh para model profesional, tetapi juga melibatkan penyintas kanker (cancer survivor). Menurut Adrie, kehadiran mereka menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan melalui koleksinya.

Untuk menerjemahkan tema penyakit jantung, Adrie mengambil inspirasi dari berbagai tanaman yang dipercaya bermanfaat menjaga kesehatan jantung. Bentuk tanaman seperti jahe dan bawang kemudian diolah menjadi motif batik cap.

"Kami menerjemahkannya lewat tanaman-tanaman yang bisa membantu menjaga kesehatan jantung. Jadi motif batiknya berasal dari bentuk tanaman-tanaman tersebut," ujarnya.

Adrie menyiapkan sekitar 32 look dalam koleksi tersebut. Seluruh motif batik dirancang sendiri olehnya, sementara proses produksi dilakukan di Solo.

Meski mengangkat tema penyakit jantung, Adrie memastikan koleksinya tetap tampil ringan. Ia memilih konsep summer resort agar busana terasa segar, modern, dan mudah dikenakan.

Selain memperkenalkan koleksi terbaru, Adrie berharap JF3 terus menjadi wadah bagi desainer Indonesia untuk berkembang. Menurutnya, kolaborasi JF3 dengan berbagai negara dapat membuka peluang yang lebih besar bagi desainer lokal untuk menembus pasar internasional.

“Saya berharap JF3 tetap menjadi platform bagi desainer Indonesia. Karena JF3 juga membuka banyak kerja sama dengan negara lain, mudah-mudahan itu menjadi peluang bagi kami untuk bisa menembus pasar Asia," katanya. (Gan)
 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |