Mengenal Serum Anti Bisa Ular (SABU) yang Tersedia di Indonesia: Jenis dan Cara Kerjanya

2 weeks ago 13
 Jenis dan Cara Kerjanya Ilustrasi, ular berbisa.(Dok. Magnific)

INDONESIA merupakan negara tropis dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk populasi ular berbisa yang tersebar di berbagai wilayah. Ancaman gigitan ular (snakebite) menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius. Untuk menangani kondisi darurat medis akibat racun ular, dunia medis mengandalkan Serum Anti Bisa Ular (SABU) atau antivenom sebagai satu-satunya penawar yang efektif.

Memahami jenis serum yang tersedia di Indonesia, cara kerjanya, serta prosedur mendapatkannya sangat krusial bagi masyarakat awam maupun tenaga medis. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai ketersediaan SABU di tanah air dan protokol penanganan yang tepat.

Apa Itu Serum Anti Bisa Ular (SABU)?

Serum Anti Bisa Ular (SABU) adalah produk biologis yang mengandung antibodi untuk menetralkan racun (venom) yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan ular. Di Indonesia, produksi serum ini dilakukan secara resmi oleh PT Bio Farma (Persero).

Secara teknis, antivenom dibuat dengan cara menyuntikkan sejumlah kecil bisa ular ke hewan donor (biasanya kuda atau domba). Hewan tersebut kemudian akan membentuk antibodi terhadap bisa tersebut. Antibodi inilah yang kemudian dipanen dari plasma darah hewan, dimurnikan, dan dikemas menjadi serum yang siap digunakan pada manusia.

Jenis Serum Anti Bisa Ular yang Tersedia di Indonesia

Berdasarkan cakupannya, antivenom dibagi menjadi dua kategori: monovalen (untuk satu jenis ular) dan polivalen (untuk beberapa jenis ular). Di Indonesia, ketersediaan serum utama adalah sebagai berikut:

1. SABU Polivalen (Bio Farma)

Ini adalah jenis serum yang paling umum tersedia di Puskesmas dan Rumah Sakit di Indonesia. Serum polivalen ini dirancang untuk menetralkan bisa dari tiga jenis ular yang paling sering menimbulkan kasus gigitan di Indonesia bagian Barat dan Tengah, yaitu:

  • Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma)
  • Ular Welang (Bungarus fasciatus)
  • Ular Kobra Jawa (Naja sputatrix)

Kelemahan dari serum polivalen standar ini adalah tidak efektif untuk menangani gigitan ular di wilayah Indonesia Timur (seperti Papua) yang memiliki jenis ular berbeda, atau ular hijau (Viperidae) jenis tertentu.

2. SABU Monovalen dan Serum Impor

Untuk jenis ular yang tidak tercover oleh SABU polivalen produksi lokal, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan biasanya melakukan pengadaan serum spesifik atau impor dalam jumlah terbatas, antara lain:

  • Biosave (Thailand): Sering digunakan untuk menangani gigitan ular King Cobra atau ular hijau (Trimeresurus insularis).
  • Antivenom Australia (CSL): Digunakan khusus untuk menangani gigitan ular di wilayah Papua, seperti ular Death Adder atau Taipan, yang memiliki karakteristik bisa berbeda dengan ular di wilayah barat.

Tidak semua gigitan ular memerlukan serum. SABU hanya diberikan jika terdapat gejala sistemik (seperti gangguan pernapasan, pendarahan hebat, atau kelumpuhan otot) atau gejala lokal yang sangat berat.

Cara Kerja Serum Anti Bisa Ular

Bisa ular mengandung protein dan enzim kompleks yang dapat merusak jaringan tubuh, mengganggu pembekuan darah (hemotoksik), atau menyerang sistem saraf (neurotoksik). Saat SABU disuntikkan ke dalam tubuh pasien, antibodi di dalam serum akan berikatan dengan molekul bisa tersebut.

Ikatan ini membuat bisa ular menjadi netral dan tidak dapat lagi merusak sel-sel tubuh. Namun, perlu diingat bahwa SABU berfungsi untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut, bukan untuk memperbaiki jaringan yang sudah terlanjur rusak secara permanen. Oleh karena itu, kecepatan pemberian serum sangat menentukan peluang kesembuhan pasien.

Prosedur dan Biaya Mendapatkan SABU

SABU termasuk dalam kategori obat darurat yang harus tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas) maupun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Berikut adalah beberapa poin terkait aksesibilitasnya:

Aspek Keterangan
Ketersediaan Tersedia di IGD Rumah Sakit dan sebagian besar Puskesmas di daerah rawan konflik ular.
Biaya Bagi peserta BPJS Kesehatan, pemberian SABU umumnya ditanggung sepenuhnya sesuai prosedur medis.
Harga Mandiri Harga per vial SABU polivalen berkisar antara Rp600.000 hingga Rp1.000.000 (tergantung kebijakan faskes). Satu kasus gigitan bisa membutuhkan lebih dari satu vial.

Langkah Darurat Sebelum Mendapatkan Serum

Sambil menunggu bantuan medis atau dalam perjalanan menuju rumah sakit, langkah pertolongan pertama yang benar sangat menentukan. Berdasarkan pedoman terbaru dari WHO, metode "Imobilisasi" adalah yang paling disarankan:

  1. Tetap Tenang: Kepanikan membuat detak jantung meningkat, sehingga bisa ular menyebar lebih cepat.
  2. Imobilisasi: Jangan gerakkan bagian tubuh yang digigit. Gunakan bidai (kayu atau papan) dan perban elastis untuk memastikan area tersebut tidak bergerak sama sekali, mirip dengan penanganan patah tulang.
  3. Jangan Melakukan Hal Berikut: Dilarang mengikat kencang (tourniquet), dilarang menyedot bisa dengan mulut, dilarang menyayat luka, dan dilarang memberikan ramuan tradisional pada luka.
  4. Segera ke RS: Bawa pasien ke fasilitas kesehatan yang memiliki stok SABU.

Serum Anti Bisa Ular adalah komponen vital dalam penanganan medis gigitan ular di Indonesia. Meskipun SABU polivalen telah tersedia secara luas, keterbatasan cakupan jenis ular tetap menjadi tantangan. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada, memahami langkah imobilisasi sebagai pertolongan pertama, dan segera mencari bantuan medis profesional tanpa menunda dengan pengobatan alternatif yang tidak teruji secara ilmiah. (H-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |