Jakarta (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ribuan titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan pada Agustus 2026. Luas indikatif lahan terbakar di Kalimantan Barat bahkan tercatat sekitar 38.310 hektare per 19 Agustus 2026, sedangkan di Kalimantan Tengah mencapai 7.634 hektare.
Kondisi terbaru di Kalimantan Barat juga menunjukkan mengapa karhutla di lahan gambut tidak mudah ditangani. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang meninjau lokasi di Kabupaten Kubu Raya pada Senin (24/8) menemukan bahwa meski kobaran api di permukaan sudah tidak terlihat, asap masih muncul dari dalam tanah gambut. Artinya, padamnya api yang terlihat belum tentu menandakan kebakaran benar-benar selesai.
Masalah serupa juga terjadi di wilayah lain. Pada Juli 2026, kebakaran lahan gambut di Nagan Raya, Aceh, membutuhkan penanganan selama berhari-hari karena api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga menjalar di bawah tanah.
Baca juga: Inilah sederet penyakit yang disebabkan oleh asap kebakaran hutan
Baca juga: Dampak kebakaran hutan bagi lingkungan yang jarang disadari
Lantas, mengapa lahan gambut mudah terbakar dan kenapa api di dalamnya begitu sulit dipadamkan?
1. Gambut menyimpan banyak bahan organik
Gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang mengalami proses penguraian dalam kondisi basah dan minim oksigen selama waktu yang sangat panjang.
Karena tersusun dari bahan organik, gambut pada dasarnya dapat menjadi sumber bahan bakar ketika kondisinya kering. Semakin banyak bagian gambut yang kehilangan kandungan air, semakin besar pula risiko bahan tersebut terbakar ketika terkena sumber api.
Inilah salah satu alasan mengapa menjaga gambut tetap basah menjadi bagian penting dalam pencegahan karhutla.
2. Gambut yang kering menjadi mudah terbakar
Dalam kondisi alami, gambut memiliki kandungan air yang tinggi sehingga tidak mudah terbakar. Persoalannya muncul ketika permukaan air tanah turun dan lapisan gambut menjadi kering.
Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa kondisi gambut yang sangat kering dapat membuat sifatnya berubah sehingga lebih sulit menyerap air kembali. Dalam kondisi tertentu, gambut yang sudah mengalami kekeringan ekstrem dapat menjadi seperti bahan kering dan lebih mudah terbakar.
Kondisi ini biasanya semakin berisiko ketika musim kemarau berlangsung dan curah hujan rendah.
3. Api dapat menjalar di bawah permukaan
Ini yang membuat kebakaran gambut berbeda dari kebakaran vegetasi biasa.
Api tidak selalu bergerak sebagai kobaran yang mudah terlihat. Pada lahan gambut, kebakaran dapat menjalar secara perlahan di lapisan organik yang berada di bawah permukaan tanah.
Akibatnya, petugas di lapangan bisa saja tidak melihat kobaran api, tetapi bagian bawah tanah masih menyimpan panas dan bara. Situasi seperti ini terlihat di Kubu Raya, Kalimantan Barat, ketika asap masih muncul dari dalam gambut meski api di permukaan sudah tidak terlihat.
Karakteristik tersebut membuat proses pencarian dan pemadaman titik api menjadi lebih rumit.
Baca juga: 7 Penyebab kebakaran hutan yang sering terjadi di Indonesia
4. Air tidak selalu mudah mencapai sumber api
Ketika api berada di bawah permukaan, menyiram bagian atas lahan belum tentu langsung memadamkan seluruh titik yang terbakar.
Air perlu mencapai bagian gambut yang masih membara. Karena itu, petugas biasanya membutuhkan proses pemadaman dan pendinginan yang lebih menyeluruh untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
Kementerian Kehutanan sebelumnya juga menjelaskan bahwa operasi pemadaman di lahan gambut membutuhkan proses cooling dan mopping up untuk memastikan bara di bawah permukaan tidak kembali memicu kebakaran.
5. Kebakaran bisa muncul kembali setelah terlihat padam
Salah satu tantangan terbesar adalah api yang kembali muncul setelah sebelumnya dianggap sudah berhasil dipadamkan.
Bara yang masih tersisa di lapisan gambut dapat kembali membakar material di sekitarnya ketika kondisi kembali kering atau mendapat pasokan oksigen. Karena itu, petugas tidak cukup hanya memastikan kobaran api di permukaan sudah hilang.
Pemantauan dan pendinginan lanjutan menjadi penting untuk memastikan tidak ada titik panas yang tertinggal.
Kondisi ini juga menjadi alasan kebakaran di lahan gambut dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar dinyatakan padam. Di Bengkalis, Riau, misalnya, tim gabungan pada Juli 2026 harus melakukan proses cooling dan mopping up setelah operasi pemadaman berlangsung sekitar sepekan.
6. Kanal drainase dapat membuat gambut semakin kering
Kondisi lahan gambut juga sangat dipengaruhi oleh tata air.
Ketika air di dalam gambut berkurang, lahan menjadi lebih kering dan bahan organik di dalamnya semakin mudah terbakar. Kementerian Kehutanan mencatat bahwa dalam penanganan karhutla di Riau, rendahnya muka air tanah gambut menjadi salah satu tantangan pemadaman, selain cuaca kering, angin, keterbatasan sumber air, dan akses menuju lokasi.
Karena itu, menjaga tata air gambut tetap baik merupakan bagian penting dari upaya mencegah kebakaran.
Baca juga: Penyebab kebakaran hutan dan cara menanggulanginya
Baca juga: BMKG: 1.923 titik panas terdeteksi di Papua Tengah
7. Vegetasi di atas gambut juga bisa menjadi bahan bakar
Bukan hanya lapisan gambut yang berpotensi terbakar. Vegetasi yang tumbuh di atasnya, seperti rumput, semak, daun kering, dan ranting, juga dapat menjadi bahan bakar ketika kondisi lingkungan kering.
Ketika api sudah muncul di permukaan, panasnya dapat membantu mengeringkan material di sekitar dan memperbesar peluang kebakaran menyebar ke area lain.
Kombinasi antara vegetasi kering di permukaan dan gambut kering di bawahnya membuat penanganan menjadi semakin kompleks.
Mengapa kebakaran gambut menghasilkan banyak asap?
Kebakaran gambut sering menghasilkan asap dalam jumlah besar karena material yang terbakar merupakan bahan organik. Ketika pembakaran berlangsung tidak sempurna, berbagai partikel dan polutan dapat dilepaskan ke udara.
Kementerian Kehutanan menyebut karakteristik kebakaran gambut yang merambat di bawah permukaan juga berkaitan dengan dampak asap, emisi karbon, serta gangguan kesehatan.
Karena itu, dampak kebakaran gambut tidak hanya dirasakan di lokasi api. Asap dapat terbawa angin dan mengganggu kualitas udara di wilayah sekitar.
Bukan berarti gambut harus dikeringkan
Justru sebaliknya, menjaga gambut tetap memiliki kandungan air yang cukup merupakan salah satu bagian penting dalam pencegahan karhutla.
Ketika gambut tetap basah, bahan organik di dalamnya lebih sulit terbakar. Sebaliknya, gambut yang mengering menjadi jauh lebih rentan ketika ada sumber api.
Itulah sebabnya pengelolaan tata air dan pencegahan kekeringan gambut menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian karhutla, bukan hanya pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi.
Kebakaran gambut tidak selesai hanya dengan memadamkan api
Karhutla di Kalimantan Barat dan sejumlah daerah lain pada Agustus 2026 kembali memperlihatkan karakter khas kebakaran gambut. Api dapat menghilang dari permukaan, tetapi panas dan asap masih muncul dari lapisan tanah di bawahnya.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa kebakaran gambut membutuhkan penanganan yang lebih hati-hati dan pemantauan berkelanjutan. Tantangannya bukan hanya menemukan kobaran api, tetapi memastikan bagian bawah permukaan benar-benar sudah dingin dan tidak menyimpan bara.
Pada akhirnya, pencegahan tetap menjadi langkah yang paling penting. Menjaga lahan gambut tetap basah, mencegah munculnya sumber api, serta melakukan pemantauan pada musim kemarau dapat membantu mengurangi risiko kebakaran yang sulit dikendalikan.
Baca juga: BMKG: Waspada ada 64 titik panas di Sumatera Utara
Baca juga: KLH selidiki 11 perusahaan terindikasi terkait karhutla di Kalsel
Baca juga: Helikopter berjibaku padamkan karhutla di ring 1 bandara Kalsel
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.














































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3202958/original/062911200_1596893908-Persijap_Jepara.jpg)


