Menag Dorong Madrasah Jadi Rumah Literasi dan Penguat Nalar Kritis

2 weeks ago 16
Menag Dorong Madrasah Jadi Rumah Literasi dan Penguat Nalar Kritis Menteri Agama Nasaruddin Umar(Dok Kemenag)

MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menjadikan madrasah sebagai pusat penguatan budaya literasi yang tidak hanya berfokus pada kegiatan membaca, tetapi juga mendorong lahirnya kemampuan berpikir kritis, riset, menulis, dan kolaborasi. Menurutnya, seluruh lingkungan madrasah harus mampu menjadi ruang yang mendukung tumbuhnya ekosistem literasi.

Hal tersebut disampaikan Menag saat membuka Festival Gerakan Literasi Madrasah (GALATAMA) II Tahun 2026, Senin (6/7).

“Madrasah harus mampu menjadi rumah literasi. Setiap sudut madrasah perlu menghadirkan ruang membaca, ruang diskusi, ruang riset, dan ruang menulis, hingga ruang kolaborasi digital,” kata Menag.

Nasaruddin menekankan bahwa literasi di madrasah harus dimaknai secara lebih komprehensif. Literasi, menurutnya, bukan sekadar membiasakan peserta didik membaca buku, melainkan juga membangun kemampuan memahami informasi, berpikir analitis, serta menghasilkan karya yang bermanfaat.

“Festival Gerakan Literasi Madrasah ini haruslah kita maknai lebih luas, bukan hanya meningkatkan minat membaca di kalangan para siswa, tetapi juga upaya meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami, menganalisis, dan mengolah informasi menjadi hal-hal kritis untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu keunggulan madrasah terletak pada kemampuannya mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembentukan akhlak. Karena itu, di tengah derasnya arus informasi digital, peserta didik perlu dibekali kemampuan menyaring informasi secara kritis dan bertanggung jawab.

Menurut Menag, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi terletak pada akses terhadap informasi, melainkan kemampuan membedakan fakta dari hoaks, ilmu dari opini, serta informasi yang benar dari yang menyesatkan. Oleh sebab itu, Gerakan Literasi Madrasah juga harus menjadi sarana membangun nalar kritis, etika bermedia digital, dan karakter peserta didik.

Ia berharap lulusan madrasah mampu menjadi generasi yang bijak dalam menggunakan ruang digital, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta mampu berdialog tanpa menebarkan kebencian. Ruang digital, lanjutnya, seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Menag juga berharap GALATAMA berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang membangun ekosistem ilmu di madrasah, bukan sekadar agenda tahunan. Menurutnya, keberhasilan literasi tidak cukup diukur dari banyaknya buku yang dibaca, tetapi juga dari karya dan inovasi yang lahir.

“Ukuran keberhasilan literasi tidak dilihat dari banyaknya buku yang dibaca, melainkan dari banyaknya gagasan yang ditulis, penelitian yang dilakukan, karya yang dihasilkan, inovasi yang diciptakan, dan solusi yang dihasilkan,” tutur Menag.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mengajak seluruh madrasah membudayakan kebiasaan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit setiap hari. Kebiasaan sederhana itu diyakini mampu memperluas wawasan peserta didik, memperkaya pengetahuan umum, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.

“Marilah kita terus jaga dan tingkatkan semangat Gerakan Literasi Madrasah dengan menerapkan kebiasaan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit setiap hari,” ucapnya. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |