Grup musik MALIQ & D’Essentials bersama pemain dan tim musikal “Senja Teduh Pelita” saat temu media usai gelaran pertunjukan musikal tersebut yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Jumat (3/7/2026).(ANTARA/Sri Dewi Larasati)
GRUP musik legendaris MALIQ & D’Essentials tengah bersiap kembali ke dapur rekaman untuk menggarap album kesepuluh mereka. Kabar ini muncul di tengah momentum perayaan 22 tahun perjalanan karier grup yang digawangi Angga Puradiredja, Indah Wisnuwardhana, Lale, Jawa, Ilman Ibrahim, dan Widi Puradiredja tersebut.
Rencana besar ini diungkapkan usai para personel menyaksikan pertunjukan musikal bertajuk Senja Teduh Pelita di Jakarta, Jumat (3/7/2026). Pertunjukan tersebut merupakan karya yang terinspirasi dari diskografi lagu-lagu MALIQ & D’Essentials sejak album perdana mereka dirilis pada 2005 silam.
Penabuh drum MALIQ & D’Essentials, Widi Puradiredja, mengaku bahwa melihat karya-karya lama mereka dipentaskan dalam bentuk musikal memberikan motivasi sekaligus tekanan tersendiri dalam proses kreatif album baru ini.
“Pasti ini jadi pressure. Iya, kita lagi bikin album kesepuluh, langsung ‘aduh lagu gue udah enak-enak belum ya lagunya’,” tutur Widi saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat.
Widi menambahkan bahwa setelah dua dekade berkarya, cara berpikir grup dalam menciptakan lagu telah banyak berubah. Mereka kini lebih mempertimbangkan selera penggemar lintas generasi dan situasi industri musik saat ini. Namun, musikal tersebut mengingatkannya kembali pada esensi lagu-lagu yang diciptakan 10 hingga 15 tahun lalu.
“Setiap karya yang bernilai minimal dari penciptanya pasti akan ada celah jalannya suatu hari nanti, selama karya itu dibuat dengan hati,” tambahnya.
Tentang Musikal Senja Teduh Pelita
Pertunjukan musikal ini bukan sekadar pementasan lagu, melainkan sebuah kisah science fiction yang mendalam. Nuya Susantono, selaku produser, sutradara, sekaligus penulis naskah, menyusun cerita dengan mendengarkan seluruh lagu dari sembilan album MALIQ & D’Essentials.
Cerita ini membawa penonton ke masa depan di mana peradaban telah runtuh akibat perubahan iklim, pandemi, dan peperangan. Fokus cerita terletak pada sembilan anak yang harus bertahan hidup dan membangun kembali dunia setelah seluruh orang dewasa menghilang.
| Judul Musikal | Senja Teduh Pelita |
| Lokasi | Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta |
| Jadwal Pementasan | 3 Juli - 12 Juli 2026 |
| Tema Cerita | Science Fiction, Lingkungan, dan Refleksi Kemanusiaan |
| Inspirasi Karya | 9 Album MALIQ & D’Essentials |
Bagi Nuya, lagu-lagu MALIQ memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi cerita petualangan yang manusiawi. Eksplorasi yang ditawarkan tidak hanya mengenai dunia luar, tetapi juga perjalanan ke dalam diri untuk menemukan nilai-nilai yang diperjuangkan manusia di tengah krisis global. (Ant/Z-1)

















































