Lautan Massa di Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Iran Bersumpah Balas Dendam ke AS dan Israel

2 weeks ago 22
Lautan Massa di Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Iran Bersumpah Balas Dendam ke AS dan Israel Jutaan pelayat penuhi Teheran dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah duka, seruan balas dendam membahana.(AFP)

MASA berkabung publik selama tiga hari di Teheran atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran berakhir dengan sebuah refleksi politik besar. Iring-iringan jenazah raksasa yang membawa peti mati Ayatollah Ali Khamenei beserta empat anggota keluarganya berjalan perlahan di sepanjang rute 10 kilometer, tertahan oleh jutaan pelayat yang memadati jalanan.

Rangkaian upacara ini dirancang dengan pesan politik yang kuat mengenai perlawanan dan balas dendam. Kelima peti mati yang dibungkus bendera Iran, termasuk satu peti kecil milik cucu perempuan Khamenei yang berusia 14 bulan, Zara, dibawa menggunakan truk. Mereka tewas akibat serangan udara Israel-Amerika pada 28 Februari lalu.

Meski jalanan Teheran dipenuhi pendukung pemerintah yang menggemakan slogan "Kematian untuk Amerika" dan "Kematian untuk Israel", tidak sedikit warga yang memilih menjauh. Mereka masih terpukul oleh dua perang dalam setahun terakhir, inflasi yang menembus 80%, serta tindakan keras keamanan terhadap protes anti-pemerintah pada Januari lalu.

"Tentu saja saya tidak pergi ke pemakaman," ujar seorang pria di luar posko bantuan logistik masyarakat. "Banyak orang tidak punya pekerjaan dan sangat tidak bahagia."

Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa duka tersebut adalah kepalsuan.

"Air mata muncul dari rasa sakit dan kesedihan yang melonjak di dalam diri seseorang, dan dunia melihat kebenaran ini," tegas Pezeshkian.

Era Baru dan Bayang-Bayang Ancaman

Prosesi ini sekaligus menandai transisi Iran ke era baru di bawah Pemimpin Tertinggi ketiga, Mojtaba Khamenei, 56. Namun, sosoknya belum terlihat di publik karena terluka parah dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya. Absennya Mojtaba di tengah kehadiran tiga saudaranya memicu kekhawatiran, terlebih dengan adanya ancaman pembunuhan yang terus berlanjut dari Israel.

"Dia ada di dalam hati saya dan saya berharap dia aman dari Trump dan Netanyahu," harap seorang perempuan yang datang jauh-jauh dari Hamadan.

Di tengah situasi finansial yang kritis, para pemimpin baru Iran kini harus tetap bernegosiasi untuk melonggarkan sanksi ekonomi demi menyelamatkan negara. Namun, bagi para pendukung garis keras, kemarahan atas tewasnya sang pemimpin sangatlah nyata. Narasi pembalasan pun terus digaungkan kepada ratusan jurnalis asing yang hadir.

"Saya ingin mengucapkan satu kalimat kepada Presiden Trump dan dunia," ujar seorang pria paruh baya bernama Mojtaba. 

"Segera, dalam waktu dekat Anda akan melihat tanda-taman balas dendam di puncak Gedung Putih, dan segera warna Gedung Putih akan menjadi warna bendera merah saya." (BBC/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |