(Dok. Pribadi)
BELAKANGAN ini, perhatian publik tertuju pada fenomena ribuan calon mahasiswa yang telah diterima di perguruan tinggi negeri tapi akhirnya tidak melakukan registrasi ulang. Terlepas dari perbedaan angka yang beredar, fenomena tersebut menyisakan pertanyaan penting bagi dunia pendidikan Indonesia: mengapa sebagian anak muda yang telah berhasil melewati proses seleksi akhirnya tidak melanjutkan studi?
Jawaban yang paling sering muncul ialah biaya pendidikan yang semakin berat. Penjelasan ini tentu tidak sepenuhnya salah. Bagi banyak keluarga Indonesia, biaya kuliah masih menjadi pertimbangan yang sangat penting. Namun, jika kita berhenti pada penjelasan tersebut, kita mungkin sedang melihat persoalan pendidikan tinggi secara terlalu sempit.
Pertanyaan yang perlu diajukan ialah: apakah akses pendidikan tinggi pada abad ke-21 hanya ditentukan oleh kemampuan membayar?
Dalam kenyataannya, banyak calon mahasiswa menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Sebagian harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Sebagian tinggal jauh dari pusat pendidikan. Sebagian lainnya harus membagi waktu antara studi, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga. Tidak sedikit pula yang sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi kesulitan menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan yang masih relatif kaku dan seragam.
Karena itu, persoalan akses pendidikan tinggi saat ini tidak hanya berkaitan dengan keterjangkauan biaya (affordability), tetapi juga dengan fleksibilitas (flexibility) sistem pendidikan itu sendiri.
KETIKA DUNIA BERUBAH
Perubahan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, pendidikan tinggi sedang mengalami transformasi yang besar. Di banyak negara, jumlah mahasiswa dewasa yang kembali belajar setelah bekerja terus meningkat. Banyak mahasiswa harus bekerja sambil kuliah, membangun keluarga, atau meningkatkan kompetensi di tengah perjalanan karier mereka.
Perubahan ini semakin dipercepat oleh perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Dunia kerja saat ini berubah jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan satu atau dua dekade yang lalu. Keterampilan yang relevan hari ini belum tentu tetap relevan beberapa tahun mendatang. Bahkan sejumlah pekerjaan diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat otomatisasi dan AI.
Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak lagi dapat dipandang sebagai aktivitas yang hanya dilakukan pada usia muda, kemudian selesai setelah memperoleh gelar. Pembelajaran semakin menjadi kebutuhan sepanjang hayat.
Inilah yang mendorong berkembangnya konsep lifelong learning. Belajar tidak lagi dipahami sebagai kegiatan yang berhenti setelah wisuda, melainkan proses yang berlangsung sepanjang kehidupan seseorang. Perguruan tinggi tidak lagi hanya berfungsi sebagai pemberi gelar akademik, tetapi juga sebagai mitra pembelajaran sepanjang hayat.
KESENJANGAN YANG JARANG DIBICARAKAN
Selama ini, diskusi mengenai akses pendidikan tinggi lebih banyak berfokus pada apa yang dapat disebut sebagai affordability gap, yaitu kesenjangan antara biaya pendidikan dan kemampuan ekonomi calon mahasiswa. Padahal, terdapat kesenjangan lain yang mulai semakin terasa, yakni flexibility gap. Kesenjangan ini muncul ketika kebutuhan dan kondisi kehidupan peserta didik tidak sejalan dengan desain sistem pendidikan yang tersedia.
Seorang mahasiswa mungkin memiliki kemampuan untuk membayar biaya kuliah, tetapi tidak dapat mengikuti jadwal perkuliahan yang kaku karena harus bekerja. Mahasiswa lain mungkin memiliki motivasi belajar yang tinggi, tetapi tinggal jauh dari kampus. Ada pula yang harus berhenti sementara karena alasan ekonomi atau keluarga, tetapi kesulitan untuk kembali melanjutkan studi. Dalam kasus-kasus tersebut, hambatan utama bukan semata-mata biaya. Hambatan utamanya ialah kurangnya fleksibilitas sistem pendidikan. Karena itu, pendidikan tinggi yang inklusif tidak cukup hanya dibuat lebih murah. Pendidikan tinggi juga perlu dibuat lebih fleksibel.
MENUJU PENDIDIKAN TINGGI YANG LEBIH FLEKSIBEL
Kabar baiknya, perkembangan teknologi justru membuka peluang besar untuk membangun pendidikan tinggi yang lebih inklusif. Pembelajaran hybrid memungkinkan mahasiswa mengombinasikan perkuliahan tatap muka dan daring. Sistem microcredential memungkinkan peserta didik memperoleh kompetensi tertentu secara lebih terarah dan fleksibel. Model stackable credential memungkinkan capaian pembelajaran dikumpulkan secara bertahap menuju kualifikasi yang lebih tinggi.
Sementara itu, berbagai skema pembayaran yang lebih fleksibel dapat membantu mahasiswa mengelola beban finansial dengan lebih baik.
Lebih jauh lagi, perguruan tinggi perlu mulai memikirkan mekanisme yang memungkinkan mahasiswa berhenti sementara dan kembali melanjutkan studi tanpa kehilangan seluruh capaian akademiknya. Dalam dunia yang semakin dinamis, jalur pendidikan yang linear dan seragam tidak lagi selalu sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Fleksibilitas bukan berarti menurunkan standar akademik. Sebaliknya, fleksibilitas merupakan upaya untuk memastikan bahwa lebih banyak orang dapat mencapai standar akademik yang sama melalui jalur yang berbeda sesuai kondisi kehidupannya.
PENDIDIKAN TINGGI UNTUK INDONESIA EMAS 2045
Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada 2045. Target tersebut tidak mungkin dicapai hanya dengan meningkatkan jumlah mahasiswa atau memperluas kapasitas perguruan tinggi. Yang dibutuhkan ialah sistem pendidikan tinggi yang mampu menjangkau keberagaman kondisi masyarakat Indonesia.
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi tantangan geografis, sosial, dan ekonomi yang unik. Karena itu, solusi pendidikan tinggi Indonesia tidak dapat hanya bertumpu pada penambahan subsidi atau penurunan biaya pendidikan. Langkah-langkah tersebut tetap penting, tetapi perlu dilengkapi dengan reformasi yang membuat sistem pendidikan lebih adaptif dan fleksibel.
Jika pada abad ke-20 tantangan utama pendidikan tinggi ialah membuka pintu akses bagi lebih banyak anak bangsa, maka pada abad ke-21 tantangannya ialah memastikan bahwa setiap orang dapat memasuki pintu tersebut melalui jalur yang sesuai dengan kondisi kehidupannya.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi yang inklusif bukan hanya pendidikan yang lebih murah. Pendidikan tinggi yang inklusif adalah pendidikan yang cukup fleksibel untuk menjangkau setiap talenta, memberi kesempatan belajar kepada lebih banyak orang, dan memungkinkan setiap warga negara mengembangkan potensi terbaiknya bagi masa depan bangsa.

















































