Krisis Energi Alaska: Harga BBM Melejit akibat Perang AS-Iran

2 weeks ago 23
 Harga BBM Melejit akibat Perang AS-Iran Ilustrasi.(Magnific)

JOHN Stelling baru saja memutar angka di pompa bensinnya ke angka US$9,10 (sekitar Rp147.000) di stasiun pengisian bahan bakar miliknya di komunitas terpencil Alaska, ketika ia menyadari masalah besar. Ia ragu apakah mesin pompanya mampu menangani angka dua digit jika harga terus merangkak naik.

"Saya tidak yakin apakah mesin ini bisa menangani itu," ujarnya mengenai kemungkinan harga bahan bakar mencapai US$10 per galon.

Di pedalaman Alaska, dampak perang dengan Iran memicu harga bahan bakar tertinggi di Amerika Serikat. Kota-kota dan desa-desa terpencil yang tidak terhubung dengan sistem jalan raya harus membayar premi besar untuk mendapatkan bensin, minyak pemanas, dan solar guna membangkitkan listrik.

Paradoks Energi di Tanah Kaya Minyak

Kondisi Alaska saat ini merupakan paradoks. Meskipun negara bagian ini memiliki sumber daya fosil yang melimpah dan menjadi pusat agenda energi Presiden Donald Trump, warga di wilayah pedalaman justru tercekik. Perang AS-Israel vs Iran menjadikan keamanan energi sebagai perhatian utama global. Namun bagi warga Alaska, hal ini berarti beban ekonomi yang tak tertahankan.

Bahan bakar biasanya tiba melalui tongkang pada musim panas saat es mencair. Pengiriman terakhir menetapkan harga hingga pengiriman berikutnya berbulan-bulan kemudian. Banyak komunitas terpaksa memesan pasokan pada musim semi lalu, tepat saat perang Iran mengirim harga minyak melonjak tajam.

Gubernur Mike Dunleavy menyatakan bahwa skala kecil dan jarak yang jauh di pedalaman Alaska bekerja melawan penduduknya. "Ini bisa menjadi musim gugur dan musim dingin yang berat," ungkapnya.

Logistik Mahal dan Ketergantungan Impor

Meskipun Alaska adalah produsen minyak terbesar kelima di AS, sebagian besar minyak mentahnya dikirim ke luar negeri. Karena keterbatasan infrastruktur jalan dan undang-undang federal yang membatasi kapal asing mengangkut barang antar pelabuhan AS, sering kali lebih murah bagi Alaska untuk mengimpor bahan bakar dari negara lain, seperti Korea Selatan, daripada membelinya dari kilang lokal.

Di Dillingham, harga bensin dan minyak pemanas mencapai kisaran US$9 per galon. Manajer kota, Jack Savo Jr., menyebutkan bahwa terobosan dalam pembicaraan damai AS-Iran tidak akan memberikan kenyamanan instan karena harga di wilayah mereka tidak bereaksi cepat terhadap perubahan pasar dunia.

Dampak Ekonomi Warga:

  • Anuska Tilden, 67: Menghabiskan US$1.000 per bulan untuk pemanas rumah dari total tunjangan jaminan sosial sebesar US$1.483.
  • Gust Wahl, 84: Kembali menggunakan tungku kayu tua untuk menghemat biaya pemanas yang mencapai US$600 per bulan.
  • Kota Dillingham: Harus memangkas biaya lembur dan menunda kenaikan gaji pegawai untuk menutupi tambahan biaya energi sebesar US$166.015 pada tahun fiskal 2027.

Kebangkitan Industri vs Realitas Rakyat

Di sisi lain, pemerintahan Trump terus mendorong Kebangkitan Besar Alaska dengan memacu produksi minyak di North Slope. Proyek-proyek besar seperti Pikka dan Willow diharapkan dapat membalikkan penurunan produksi minyak Alaska. Perusahaan raksasa seperti ConocoPhillips, Repsol, dan Exxon Mobil menginvestasikan ratusan juta dolar untuk hak pengeboran.

Namun, Tom Atkinson, mantan eksekutif utilitas listrik di Kotzebue, menilai pengembangan minyak dan gas belum benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang paling membutuhkan penghematan biaya energi.

Implikasi Politik di Negara Bagian Merah

Krisis energi ini mulai mengikis dukungan terhadap Trump di wilayah pedalaman dan menjadi isu sentral dalam pemilihan Senat antara petahana Republik, Dan Sullivan, dan penantang dari Demokrat, Mary Peltola.

Peltola, yang mendukung proyek minyak baru tetapi berjanji menurunkan biaya hidup, mulai menarik perhatian pemilih yang merasa terbebani oleh kebijakan administrasi saat ini. Di desa New Stuyahok, harga bensin bahkan menyentuh US$10 per galon, membuat harga kebutuhan pokok lainnya ikut melambung dua kali lipat.

Bagi warga seperti Justin Askoak, distributor bahan bakar di New Stuyahok, situasi ini sangat mengkhawatirkan. "Semua yang kami beli harganya dua kali lipat, dan itu semua bermuara pada satu titik, satu administrasi," pungkasnya. (Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |