Ilustrasi(Dok Istimewa)
DI tengah pesatnya perkembangan media sosial, menjadi reviewer produk bukan lagi sekadar hobi, tetapi juga bisa menjadi profesi yang menjanjikan. Namun, banyak kreator pemula yang masih kesulitan membangun identitas sehingga kontennya sulit dikenal, meski sudah rutin mengunggah video.
Padahal, memiliki personal branding yang kuat menjadi salah satu kunci agar audiens mudah mengingat seorang kreator. Ketika sudah memiliki ciri khas dan kepercayaan dari pengikut, peluang mendapatkan kerja sama dengan berbagai brand pun akan semakin besar.
Hal itu dibuktikan oleh Novita Sari, kreator konten asal Sampang, Jawa Timur, yang sukses membangun karier di dunia digital. Pemilik akun TikTok @novitasari.parma dengan 11,5 juta pengikut itu memulai semuanya dari nol. Saat pertama kali membuat akun TikTok pada awal 2020, ia hanya ingin mengikuti tren yang sedang viral sebagai hiburan.
Tak pernah terlintas di benaknya bahwa aktivitas tersebut akan mengubah hidupnya. Berawal dari membuat konten drama dan slow motion yang saat itu sedang populer, Novita perlahan berkembang menjadi kreator lifestyle dan reviewer produk yang dipercaya berbagai brand. Dari endorsement pertamanya yang hanya bernilai Rp50 ribu, kini ia mampu menerima kerja sama dengan nilai jutaan hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah, serta berhasil memiliki produk sendiri.
“Awalnya saya benar-benar hanya iseng membuat konten. Saya tidak pernah berpikir bakal punya jutaan followers atau mendapatkan penghasilan dari media sosial. Semua berjalan karena saya terus belajar dan menikmati prosesnya,” ujar Novita.
Menurut Novita, membangun personal branding tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan konsistensi, kesabaran, dan kemauan untuk terus berkembang mengikuti perubahan tren.
Berikut lima strategi yang menurutnya penting untuk membangun personal branding sebagai reviewer produk di media sosial.
1. Temukan Identitas Konten yang Membuat Orang Mudah Mengingat Anda
Kesalahan yang sering dilakukan kreator pemula adalah terus mengikuti semua tren tanpa memiliki identitas sendiri. Akibatnya, konten memang mungkin mendapatkan penonton, tetapi audiens sulit mengingat siapa kreatornya.
Novita menyarankan agar setiap kreator memiliki karakter yang konsisten, mulai dari gaya berbicara, cara menjelaskan produk, hingga konsep video yang menjadi ciri khas.
Ia sendiri memulai perjalanan melalui konten drama ketika format tersebut sedang digemari pengguna TikTok. Setelah dunia digital berubah, ia tetap mempertahankan gaya penyampaian yang santai dan mudah dipahami ketika beralih membuat review produk.
“Menurut saya, orang harus punya alasan untuk mengingat kita. Jadi jangan hanya ikut tren, tapi juga punya ciri khas yang membedakan dari kreator lain,” katanya.
Dengan identitas yang kuat, audiens akan lebih mudah mengenali konten Anda meski hanya melihat beberapa detik pertama video.
2. Bangun Kepercayaan Lewat Review yang Jujur dan Berdasarkan Pengalaman
Dalam dunia review produk, kepercayaan adalah aset yang paling berharga. Followers tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga ingin mendapatkan informasi yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum membeli sebuah produk.
Karena itu, Novita selalu berusaha mencoba produk terlebih dahulu sebelum memberikan ulasan. Ia menyampaikan pengalaman menggunakan produk dengan bahasa yang sederhana tanpa memberikan klaim berlebihan. Menurutnya, review yang jujur akan membuat audiens merasa dihargai. Ketika kepercayaan sudah terbentuk, mereka akan kembali menonton konten berikutnya dan lebih percaya terhadap rekomendasi yang diberikan.
“Kalau kita menjaga kejujuran, orang akan percaya. Menurut saya, itu jauh lebih penting daripada hanya mengejar video viral,” ujarnya.
Kepercayaan inilah yang pada akhirnya juga menjadi alasan banyak brand memilih bekerja sama dengannya.
3. Konsisten Upload Konten dan Jangan Takut Memulai dari Nol
Novita mengaku perjalanan menuju 11,5 juta followers tidak terjadi dalam semalam. Ia memulai semuanya dari akun tanpa pengikut dan terus membuat konten meski belum banyak yang menonton.
Bahkan, saat itu ia sama sekali tidak memikirkan jumlah followers ataupun peluang mendapatkan penghasilan.
“Saya hanya fokus membuat konten. Waktu itu tidak pernah kepikiran akan terkenal atau menghasilkan uang. Yang penting terus upload dan terus belajar,” ungkapnya.
Menurut Novita, konsistensi adalah proses membangun kepercayaan, baik kepada audiens maupun algoritma media sosial. Semakin sering membuat konten, kemampuan berbicara, mengedit video, hingga memahami keinginan penonton akan terus berkembang.
Banyak kreator berhenti karena merasa hasilnya lambat, padahal personal branding justru terbentuk dari proses panjang yang dilakukan secara konsisten.
4. Berani Beradaptasi dengan Tren Tanpa Kehilangan Jati Diri
Salah satu alasan Novita mampu bertahan di tengah persaingan media sosial adalah kemampuannya mengikuti perkembangan platform.
Saat awal TikTok berkembang, ia fokus membuat konten drama dan slow motion karena format tersebut sedang diminati. Namun, ketika TikTok Shop hadir dan konten review produk menjadi peluang baru, ia tidak ragu mempelajari cara membuat review yang menarik.
Kini, konten lifestyle dan review produk menjadi identitas baru yang berhasil membawanya bekerja sama dengan banyak brand.
“Media sosial selalu berubah. Kalau kita tidak mau belajar, kita akan tertinggal. Tetapi mengikuti tren bukan berarti kehilangan karakter kita sendiri,” jelasnya. Kemampuan beradaptasi membuat personal branding tetap relevan tanpa harus meninggalkan identitas yang sudah dibangun.
5. Jadikan Personal Branding sebagai Investasi Jangka Panjang, Bukan Sekadar Mengejar Cuan
Bagi Novita, personal branding bukan hanya soal memiliki banyak followers atau sering mendapatkan endorsement. Yang lebih penting adalah membangun reputasi yang baik sehingga orang percaya terhadap setiap konten yang dibuat.
Kepercayaan itulah yang mengantarkannya dari endorsement pertama senilai Rp50 ribu menjadi kreator yang dipercaya berbagai brand besar dengan nilai kerja sama jutaan hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Tidak hanya itu, pengalaman selama bertahun-tahun me-review berbagai produk juga memberinya wawasan untuk membangun produk miliknya sendiri. “Saya bersyukur karena perjalanan ini membawa banyak kesempatan. Awalnya hanya iseng membuat konten, sekarang bisa bekerja sama dengan banyak brand dan bahkan punya produk sendiri. Semua itu terjadi karena saya terus menjaga kualitas konten dan kepercayaan audiens,” tutur Novita. (H-2)

















































