Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, Masykur Isnan(Pemuda Kaum Betawi)
Kongres II Pemuda Kaum Betawi secara resmi menegaskan komitmen organisasi untuk mendorong transformasi menyeluruh bagi masyarakat Betawi. Melalui penguatan budaya, kemandirian ekonomi, dan pembangunan kepemimpinan generasi muda, organisasi ini berupaya menjawab tantangan zaman yang kian dinamis.
Kongres yang berlangsung di Bale H. Sanusi Konte, Jakarta, pada Minggu (5/7) tersebut mengusung tema besar Betawi Revolusi: Transformasi Budaya, Kemandirian Ekonomi, dan Kepemimpinan Masa Depan. Acara ini dihadiri oleh jajaran tokoh Betawi, unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida), organisasi kepemudaan, serta berbagai elemen masyarakat sebagai ajang konsolidasi arah gerak organisasi.
Manifesto Betawi Revolusi
Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, Masykur Isnan, menyampaikan manifesto Betawi Revolusi yang menekankan pentingnya perubahan paradigma organisasi di era modern. Masykur menegaskan bahwa organisasi tidak boleh lagi sekadar menjadi wadah administratif atau alat penggalangan massa.
“Organisasi harus mampu membangun jejaring pengetahuan, memperluas pengaruh, dan menghasilkan nilai-nilai yang relevan bagi masyarakat. Masyarakat Betawi memiliki modal sosial, budaya, dan intelektual yang besar untuk menghadirkan perspektif yang moderat, inklusif, serta berorientasi pada kemajuan peradaban,” ujar Masykur.
Ia juga menyoroti sejumlah persoalan struktural yang masih membayangi warga asli Jakarta, seperti penyusutan kepemilikan lahan akibat pembangunan kota, keterbatasan akses pendidikan dan lapangan kerja, hingga minimnya representasi dalam pengambilan kebijakan publik.
Dalam forum tersebut, Pemuda Kaum Betawi mendorong transformasi menuju konsep “Organisasi 5.0”. Langkah ini mencakup pembaruan tata kelola, sistem kaderisasi berbasis data, produksi pengetahuan, hingga pengembangan ekosistem digital tanpa mencabut akar tradisi.
“Diam atau bergerak menjadi pilihan. Pemuda Kaum Betawi memilih untuk bergerak demi menjaga keagungan Betawi. Ini bukan chauvinisme sempit, melainkan ikhtiar menjaga kearifan lokal agar tidak tergerus perubahan zaman,” tegasnya. Menurutnya, tradisi harus menjadi sumber inovasi sosial dan intelektual, bukan sekadar warisan sejarah yang statis.
Dukungan untuk Majelis Kaum Betawi (MKB)
Selain penguatan internal, kongres ini menyatakan dukungan penuh terhadap pembentukan Majelis Kaum Betawi (MKB). Lembaga ini diproyeksikan menjadi wadah strategis untuk memperkuat posisi tawar masyarakat Betawi di masa depan melalui program-program sistematis.
Beberapa inisiatif yang akan dikembangkan melalui sinergi ini meliputi:
- Bale Digital & Bale Politik: Pusat pengembangan literasi digital dan kesadaran politik.
- Jakarta Inkubator Bisnis (Jakin): Wadah pengembangan kewirausahaan bagi pemuda Betawi.
- Talenta Jakarta: Program sertifikasi kompetensi dan pemetaan bakat generasi muda.
Kongres II ini diharapkan menjadi momentum awal bagi generasi muda Betawi untuk tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga meningkatkan daya saing di tengah dinamika pembangunan Jakarta dan kompetisi global. (E-3)

















































