Kisah Warga AS Divonis Kanker setelah Dua Tahun Mengira Hanya Cedera Bahu

2 weeks ago 23
Kisah Warga AS Divonis Kanker setelah Dua Tahun Mengira Hanya Cedera Bahu ilustrasi(Magnific)

SEORANG warga Houston, Texas, Amerika Serikat (AS), Eric Dillon, membagikan kisah perjuangannya setelah didiagnosis mengidap multiple myeloma atau kanker sel plasma. Penyakit mematikan tersebut baru terdeteksi setelah selama hampir dua tahun ia mengira rasa nyeri di bahunya hanyalah cedera otot biasa.

Dilansir dari CBS News, Senin (6/7), Dillon awalnya merasakan nyeri hebat pada bahu dan menduga penyebabnya adalah cedera rotator cuff. Saat memeriksakan diri ke dokter spesialis ortopedi, dugaan tersebut sempat diperkuat sehingga ia hanya disarankan menjalani terapi fisik dan rutin melakukan peregangan.

Meski kondisinya sempat membaik, rasa nyeri sesekali masih muncul. Dillon biasanya mengatasinya secara mandiri dengan mengubah posisi tidur atau mengurangi aktivitas fisik.

Namun, pada Mei 2024, ketika sedang mengerjakan pekerjaan di halaman rumahnya di Houston, ia tiba-tiba mengalami nyeri yang sangat hebat. Ia kembali menjalani pemeriksaan ke dokter ortopedi. Hasil MRI menunjukkan adanya kelainan yang mencurigakan sehingga ia dirujuk ke dokter onkologi.

Saat itu, Dillon mengaku sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya sedang diperiksa terkait kanker.

"Saya datang hanya karena mendapat rujukan dari dokter lain. Lalu dokter berkata, 'Saya dokter onkologi ortopedi, saya menangani kanker.' Saat itu saya langsung berpikir, 'Tunggu, apa?'" ujar Dillon dikutip dari laman CBS News.

Serangkaian pemeriksaan kemudian memastikan bahwa ia mengidap multiple myeloma, yaitu kanker yang menyerang sel plasma di sumsum tulang. 

Nyeri Bahu Bisa Menjadi Tanda Awal

Chief Medical Officer Multiple Myeloma Research Foundation, Dr. Hearn Cho, menjelaskan bahwa multiple myeloma dapat mengganggu pembentukan sel darah normal sehingga menyebabkan anemia, kerusakan ginjal, meningkatnya kadar kalsium dalam darah, hingga merusak jaringan tulang.

Menurut Cho, kerusakan pada tulang itulah yang menjadi penyebab nyeri bahu yang dialami Dillon.

Ia mengatakan, multiple myeloma sering kali sulit dikenali karena gejalanya menyerupai cedera atau gangguan otot dan sendi yang jauh lebih umum terjadi.

"Tulang belakang sering menjadi bagian yang terdampak sehingga pasien mengeluhkan nyeri punggung. Namun keluhan seperti ini sangat umum. Karena itu, dokter biasanya lebih dulu menduga radang sendi, ketegangan otot, atau gangguan muskuloskeletal. Diagnosis multiple myeloma akhirnya bisa memakan waktu cukup lama," jelas Cho.

Cho juga mengungkapkan bahwa warga kulit hitam di Amerika Serikat memiliki risiko lebih tinggi mengalami multiple myeloma. Meski hanya sekitar 4% dari total populasi, kelompok tersebut menyumbang sekitar 20% dari seluruh pasien multiple myeloma dan umumnya didiagnosis pada usia yang lebih muda.

Mengikuti Uji Klinis hingga Dinyatakan Remisi

Usai didiagnosis, Dillon ingin segera menjalani pengobatan. Ia mengaku merasa lebih tenang setelah mengetahui rencana terapi yang akan dijalani.

Tidak lama kemudian, tim dokter menawarkan kesempatan untuk mengikuti uji klinis. Dillon langsung menerima tawaran tersebut tanpa berpikir panjang.

"Bagi saya, mengikuti uji klinis justru menjadi nilai tambah. Saya merasa lebih tenang, lebih memahami apa yang sedang terjadi, dan merasa memiliki kendali lebih besar terhadap pengobatan saya," katanya.

Selain untuk dirinya sendiri, Dillon juga berharap keterlibatannya dapat membantu meningkatkan partisipasi pasien kulit hitam dalam penelitian medis. Menurut Cho, kelompok tersebut selama ini masih kurang terwakili dalam berbagai uji klinis, termasuk penelitian mengenai multiple myeloma.

Selama hampir satu tahun, Dillon menjalani delapan siklus terapi sambil tetap bekerja sebagai konsultan teknik. Ia bahkan mencatat seluruh perkembangan pengobatannya dalam jurnal harian.

Sempat muncul efek samping ringan sehingga dokter menyesuaikan dosis obat yang digunakan dalam uji klinis. Setelah itu, pengobatan berjalan lancar tanpa efek samping serius.

Meski demikian, pemeriksaan masih menemukan sisa kanker pada tulang bahunya. Kondisi tersebut akhirnya berhasil diatasi setelah ia menjalani beberapa sesi terapi radiasi tambahan.

"Rasanya luar biasa bisa terbebas dari rasa sakit dan melanjutkan hidup. Sekarang semuanya terasa indah," ujar Dillon.

Kini Dillon dinyatakan berada dalam masa remisi. Ia masih menjalani kontrol rutin ke dokter onkologi dan mengonsumsi obat setiap hari untuk menjaga kondisinya tetap stabil.

Meski di masa depan ia memiliki peluang untuk menjalani transplantasi sel punca (stem cell), untuk saat ini Dillon memilih menundanya karena prosedur tersebut mengharuskannya menjalani isolasi ketat selama beberapa bulan. (CBS/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |