Stale Solbakken.(Sky Sports)
NAMA Stale Solbakken kini menjadi buah bibir di jagat sepak bola internasional. Pelatih berusia 58 tahun tersebut sukses mengakhiri penantian panjang selama 28 tahun bagi Timnas Norwegia untuk kembali berlaga di panggung tertinggi, Piala Dunia. Namun, di balik kesuksesan taktisnya, Solbakken menyimpan narasi kehidupan yang luar biasa, mulai dari pengalaman mati suri hingga kegagalan pahit di Inggris.
Momen emosional pecah saat Norwegia memastikan langkah ke babak gugur Piala Dunia setelah kemenangan dramatis 3-2 atas Senegal. Alih-alih merayakan bersama skuad di lapangan, Solbakken justru melakukan aksi spontan dengan memanjat tribun penonton. Ia menghampiri istrinya, Anniken, yang telah setia mendampinginya selama tiga dekade.
"Kalau saya sempat berpikir lebih dulu, mungkin saya tidak akan melakukannya," ujar Solbakken sebagaimana dikutip dari The Athletic. Bagi publik Norwegia, aksi tersebut bukan sekadar selebrasi, melainkan simbol kelegaan kolektif sebuah bangsa yang sudah lama merindukan kejayaan sepak bola.
Mati Suri Selama Tujuh Menit
Jauh sebelum dikenal sebagai pelatih bertangan dingin, Solbakken adalah gelandang andalan Norwegia yang pernah mencicipi atmosfer Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Namun, garis hidupnya berubah total pada 13 Maret 2001 saat ia membela klub Denmark, Copenhagen.
Dalam sebuah sesi latihan, Solbakken tiba-tiba ambruk akibat serangan jantung. Secara medis, ia dinyatakan mengalami kematian klinis karena jantungnya berhenti berdetak selama tujuh menit. Nyawanya terselamatkan berkat aksi cepat dokter tim, Frank Odgaard, yang melakukan pijat jantung di lokasi kejadian. Solbakken sempat tidak sadarkan diri selama 26 jam di bawah perawatan intensif.
"Rasanya seperti lampu yang tiba-tiba padam," kenang Solbakken. Ia mengakui bahwa peristiwa itu jauh lebih berat bagi keluarganya. Ibunya bahkan sempat memikirkan rencana pemakaman saat terbang menuju Denmark. Akibat kelainan jantung bawaan ini, Solbakken terpaksa pensiun dini dan harus hidup dengan alat pacu jantung.
Kebangkitan di Kursi Pelatih
Enggan menjauh dari lapangan hijau, Solbakken merintis karier kepelatihan. Ia sukses membawa HamKam promosi ke kasta tertinggi Norwegia sebelum kembali ke Copenhagen sebagai pelatih kepala. Di Denmark, ia menjelma menjadi legenda dengan mempersembahkan delapan gelar liga dan membawa klub tersebut bersaing di Liga Champions, termasuk menumbangkan raksasa seperti Manchester United.
Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Solbakken sempat mengalami periode kelam di Inggris. Saat melatih Wolverhampton Wanderers pada 2012, ia gagal beradaptasi dengan budaya sepak bola setempat. Wolves terpuruk ke posisi 18, dan Solbakken bahkan mengalami intimidasi dari suporter sebelum akhirnya dipecat hanya dalam waktu enam bulan.
Era Baru Bersama Generasi Emas Norwegia
Sejak ditunjuk menangani Timnas Norwegia pada 2020, Solbakken memikul beban berat untuk memaksimalkan potensi "Generasi Emas" yang dihuni Erling Haaland dan Martin Odegaard. Setelah sempat gagal menembus Piala Dunia 2022 dan Piala Eropa 2024, Solbakken bahkan sempat menyatakan kesiapannya untuk mundur jika kembali gagal.
Komitmen tersebut dijawab dengan performa impresif. Norwegia menyapu bersih delapan pertandingan di kualifikasi Piala Dunia 2026. Erling Haaland menjadi mesin gol utama dengan torehan 16 gol sepanjang kualifikasi. Di bawah arahan Solbakken, Norwegia kini bukan lagi tim yang sekadar berpartisipasi, melainkan kekuatan baru yang berhasil melaju ke babak gugur putaran final.
Bagi Solbakken, sepak bola tetaplah gairah hidupnya, namun pengalaman mati suri telah memberinya perspektif berbeda. "Peristiwa itu membuat saya bisa membedakan mana yang benar-benar penting dalam hidup. Saya memberikan segalanya untuk pekerjaan, tetapi saya sadar ada hal-hal yang jauh lebih penting daripada sepak bola," pungkasnya. (The Atletic)

















































