Jemaah haji dari berbagai negara melakukan tawaf ifadah mengelilingi Kabah di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, Minggu (31/5)(MI/Akmal Fauzi)
DIREKTORAT Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kementerian Haji dan Umrah terus memperkuat berbagai program strategis untuk mengembangkan ekosistem ekonomi haji. Langkah ini dilakukan guna mengoptimalkan manfaat ekonomi dari penyelenggaraan ibadah haji dan umrah bagi perekonomian nasional.
Direktur Jenderal PE2HU, Jaenal Effendi, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar dalam mengembangkan ekonomi berbasis haji dan umrah. Menurutnya, nilai potensi ekonomi dari kedua sektor tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp80 triliun setiap tahun sehingga perlu dikelola melalui ekosistem yang terintegrasi.
"Pengembangan ekosistem ekonomi haji merupakan upaya untuk memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional melalui peningkatan keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha dalam negeri," kata Jaenal dalam keterangannya, Senin (6/7).
Salah satu fokus yang terus didorong pemerintah ialah memperluas penggunaan produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan haji dan umrah. Upaya tersebut telah diwujudkan melalui ekspor 28 jenis bumbu Nusantara dengan total volume lebih dari 300 ton, serta penyediaan sekitar 3,1 juta paket makanan siap saji bagi jamaah.
Di sektor transportasi dan pariwisata, Ditjen PE2HU juga mengembangkan pemanfaatan penerbangan kosong (empty flight) sebagai sarana menarik wisatawan dari kawasan Timur Tengah ke Indonesia. Hingga kini, program tersebut telah melayani 1.723 penumpang dan akan terus diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Selain itu, penguatan ekosistem ekonomi haji dilakukan melalui pengembangan investasi dari hulu hingga hilir, termasuk penyempurnaan sistem pengadaan dan distribusi produk Indonesia untuk kebutuhan jamaah. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan pelaku usaha nasional dalam rantai nilai ekonomi haji dan umrah yang diperkirakan memiliki potensi sebesar 30 hingga 40 persen. Pengembangan Platform Ekonomi Haji juga terus dilakukan untuk mendukung integrasi ekosistem secara digital.
Jaenal menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ekosistem ekonomi haji membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Ekosistem ekonomi haji tidak dapat dibangun oleh satu pihak. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat rantai pasok nasional, membuka peluang investasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Jaenal.
Ditjen PE2HU kembali menegaskan komitmennya untuk mempercepat implementasi berbagai program strategis pengembangan ekosistem ekonomi haji. Rakernas juga menjadi momentum memperkuat sinergi lintas sektor agar potensi ekonomi haji dapat dimanfaatkan secara optimal sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. (P-4)

















































