ilustrasi(Antara)
Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, yang masih berlangsung sejak 30 Juni 2026 berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius bagi masyarakat.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengingatkan bahwa asap dari kebakaran sampah mengandung berbagai gas berbahaya serta partikel halus yang dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan. Tjandra mengutip hasil kajian ilmiah yang dipublikasikan jurnal Sustainability pada 2023 berjudul A Comprehensive Study of the Impact of Waste Fires on the Environment and Health.
Menurutnya, kebakaran sampah skala luas dapat melepaskan sedikitnya delapan jenis gas pencemar ke udara, yakni amonia (NH3), karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), hidrogen sulfida (H2S), metana (CH4), nitrogen dioksida (NO2), dan sulfur dioksida (SO2).
Selain gas, kebakaran juga menghasilkan polusi berupa partikel halus (particulate matter) seperti PM10, PM5, dan PM2,5 yang dapat masuk hingga ke alveolus atau kantong udara di paru-paru.
"Selain gas maka juga akan ada polusi bahan padat particulate matter di udara dalam berbagai ukuran, seperti PM10, PM5, dan PM2,5 yang sangat kecil dan dapat masuk ke saluran napas yang paling kecil di alveolus," kata Tjandra dalam keterangan resmi, Selasa (7/7).
Ia menambahkan, pembakaran biomassa sampah juga dapat menghasilkan senyawa organik yang mudah menguap (volatile organic compounds/VOC) serta senyawa kimia aromatik polisiklik yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Berdasarkan kajian tersebut, dampak kesehatan akibat paparan asap kebakaran sampah dapat bervariasi, mulai dari sakit kepala, iritasi mata, gangguan kulit, hingga gangguan saluran cerna. Pada kasus yang lebih berat, paparan dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serangan asma, dan berbagai gangguan paru lainnya.
Tjandra menegaskan bahwa kelompok yang paling berisiko terdampak ialah lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penderita penyakit paru kronis.
Selain memaparkan dampak kesehatan, ia menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pengendalian kebakaran TPA. Menurutnya, jurnal tersebut juga menjelaskan potensi penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), machine learning (ML), dan deep learning untuk membantu pengendalian kebakaran sampah skala besar.
Tjandra juga mengutip kajian dari Wisconsin Department of Natural Resources berjudul Environmental and Health Impacts of Open Burning yang menjelaskan bahwa pembakaran sampah plastik dapat melepaskan zat berbahaya seperti dioksin, benzo(a)pyrene (BaP), dan hidrokarbon aromatik polisiklik.
Rujukan lain yang disampaikannya berasal dari artikel yang diterbitkan Mongabay pada 17 Juni 2025 berjudul Open Burning of Plastic Is an Escalating Public Health Threat, yang juga mengingatkan meningkatnya ancaman kesehatan akibat praktik pembakaran terbuka sampah plastik.
Karena itu, Tjandra berharap penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin tidak hanya difokuskan pada pemadaman api, tetapi juga memperhatikan perlindungan kesehatan masyarakat berdasarkan bukti ilmiah.
"Semoga pengendalian dampak kesehatan kebakaran di TPA Jatiwaringin dilakukan dengan baik dan mengacu kajian ilmiah, tanpa menimbulkan korban yang berarti," tandasnya. (E-3)

















































