Ilustrasi.(Magnific)
IRAN dilaporkan telah membangun kembali infrastruktur militer dan sipil yang rusak akibat pengeboman Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan laporan pejabat Barat dan Israel serta tinjauan citra satelit, pemulihan ini mencakup pangkalan rudal di pegunungan, jembatan, pelabuhan, hingga fasilitas produksi militer.
Kecepatan rekonstruksi ini memicu kekhawatiran di kalangan pejabat Israel. Hal ini menjelaskan ketahanan Teheran meskipun menghadapi lebih dari 20.000 serangan udara selama puncak perang. Serangan tersebut awalnya bertujuan mematahkan kendali Iran atas Selat Hormuz dan menghancurkan kemampuan logistik militer mereka.
Bukti Citra Satelit dan Pemulihan Cepat
Citra satelit dari Planet Labs dan Airbus menunjukkan bukti nyata upaya pembangunan kembali tersebut:
- Kangavar: Pada Maret, pintu masuk terowongan pangkalan rudal di Iran barat hancur. Namun, dalam hitungan minggu, citra terbaru menunjukkan jalan akses yang diaspal rapi dan pintu masuk yang baru digali.
- Bandar Anzali: Di pelabuhan Laut Kaspia ini, rekonstruksi parsial terlihat pada galangan kapal milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang sebelumnya dihantam puluhan target oleh Israel.
- Dezful dan Kermanshah: Pangkalan rudal yang pintu masuknya terkubur akibat serangan udara kini mulai digali kembali. Truk-truk terlihat membersihkan tanah untuk membuka akses ke fasilitas bawah tanah.
Ran Kochav, mantan komandan pertahanan udara dan rudal Israel, menyatakan bahwa kemampuan industrialisasi dan rekonstruksi Iran sangat mengesankan. "Mereka mengisi kembali stok mereka. Mereka memiliki kemampuan yang sangat mumpuni dalam membangun kembali infrastruktur," ujarnya.
Catatan Strategis: Pejabat militer Israel secara pribadi menyatakan frustrasi karena serangan sering kali hanya meruntuhkan pintu masuk pangkalan di pegunungan, sementara senjata di dalamnya tetap utuh dan kini sedang digali kembali oleh Iran.
Kontradiksi Klaim Kemenangan
Upaya pembangunan kembali yang masif ini berbanding terbalik dengan klaim politik di Washington dan Israel. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan militer Iran hancur total. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengeklaim pihaknya menghancurkan mesin produksi rudal Iran.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan Iran masih mampu meluncurkan serangan presisi ke kapal-kapal dan pangkalan sekutu AS di kawasan, termasuk serangan di Yordania yang menewaskan tiga tentara AS baru-baru ini. Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, tetap mempertahankan posisi bahwa operasi militer tersebut adalah kemenangan telak yang berhasil melemahkan sekutu milisi Iran dan memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.
Kekhawatiran Program Nuklir
Selain fasilitas rudal, intelijen Israel meyakini Iran mungkin memindahkan ribuan sentrifugasi ke dalam terowongan di Pickaxe Mountain. Langkah ini meningkatkan kekhawatiran bahwa Iran sedang menyusun kembali program nuklirnya di lokasi yang lebih sulit dijangkau oleh serangan udara.
Meskipun fasilitas komponen canggih seperti serat karbon mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih, para analis memperingatkan bahwa Iran kemungkinan besar menimbun komponen tersebut di fasilitas bawah tanah untuk perakitan rudal dan drone dalam jangka pendek. "Ini adalah masalah kemauan, waktu, dan uang," pungkas Tal Inbar, analis senior dari Missile Defense Advocacy Alliance. (The Wall Street Journal/I-2)

















































