Iran Ancam Balas Serangan Infrastruktur AS dengan Aksi Kuat dan Tegas

2 days ago 2
Iran Ancam Balas Serangan Infrastruktur AS dengan Aksi Kuat dan Tegas Ledakan menghantam wilayah timur laut, barat, dan pusat di tengah serangan Israel di Teheran, Iran, pada Rabu (1/4/2026).(Anadolu)

MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur negaranya akan memicu aksi balasan yang "kuat dan tegas". Pernyataan ini disampaikan Araghchi pada Rabu (23/7/2026) melalui platform X, merespons meningkatnya ancaman militer dari Amerika Serikat.

Araghchi menegaskan bahwa doktrin pertahanan Iran menganut prinsip "mata ganti mata". Ia juga memperingatkan bahwa negara-negara yang memberikan dukungan terhadap agresi AS akan dianggap sebagai sasaran sah bagi militer Iran. "Setiap agresi terhadap Iran, termasuk terhadap infrastruktur kami, akan memaksa kami untuk memberikan respons yang kuat," tegasnya.

Ketegangan ini memuncak setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang fasilitas vital Iran, seperti jembatan dan pembangkit listrik. Ancaman tersebut merupakan respons AS jika Iran mengganggu kapal komersial di Selat Hormuz. Trump secara spesifik menyebut kawasan Pickaxe Mountain di dekat fasilitas nuklir Natanz sebagai target potensial.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, turut memperingatkan bahwa stabilitas kawasan bergantung pada ketiadaan pasukan AS. Ia menyatakan tidak ada negara di kawasan yang bisa menjual minyak jika Iran dicegah melakukannya. Hal ini mencerminkan sengketa navigasi yang terus memanas di jalur perairan strategis tersebut.

Di sisi lain, Juru Bicara Kemlu Iran Esmaeil Baghaei menuding AS menggunakan isu program nuklir sebagai dalih sabotase. Baghaei menegaskan bahwa seluruh kegiatan nuklir Iran telah dilaporkan ke IAEA dan ancaman AS melanggar hukum internasional serta Piagam PBB.

Konflik fisik sebenarnya telah pecah sejak pekan lalu melalui serangkaian aksi saling serang antara militer AS dan fasilitas militer Iran di kawasan. Eskalasi ini terjadi meskipun kedua negara sempat menandatangani kerangka kesepakatan damai yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu.

Rakyat Iran dilaporkan tetap bersatu menghadapi potensi pelanggaran kedaulatan. Situasi di Selat Hormuz diprediksi tidak akan kembali normal selama kehadiran militer AS masih mendominasi wilayah tersebut. (Anadolu/Ant/I-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |