DLH Kota Bekasi menginvestigasi pencemaran Kali Bekasi yang kini berwarna hitam pekat .(MI/Anton Kustedja/HO-Pemkot Bekasi)
DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi bersama Komunitas Peduli Sungai Cileungsi dan Cikeas (KP2C) menggelar investigasi lapangan terkait dugaan pencemaran di aliran Kali Bekasi.
Langkah ini diambil merespons temuan perubahan warna air sungai yang menghitam pekat di titik pertemuan Sungai Cileungsi dan Cikeas pada Rabu (22/7).
Penyusuran sungai dilakukan oleh tim gabungan KP2C dan Pasukan Katak DLH Kota Bekasi hingga memasuki wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Petugas menemukan indikasi kuat pencemaran air dari perubahan warna Sungai Cileungsi, lalu menyisir sejumlah saluran pembuangan limbah yang bermuara ke badan air.
Dalam investigasi tersebut, UPTD Laboratorium DLH Kota Bekasi mengambil sampel air Sungai Cileungsi untuk dianalisis guna menguji kualitas serta mengidentifikasi parameter zat pencemar.
Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengungkapkan bahwa hasil penelusuran awal mengarah pada aktivitas di kawasan hulu.
“Berdasarkan hasil penelusuran lapangan, indikasi awal menunjukkan bahwa sumber pencemaran berasal dari wilayah hulu. Namun demikian, kami tetap melakukan verifikasi melalui pengambilan sampel dan analisis laboratorium untuk memastikan sumber pencemar secara ilmiah,” ujar Kiswatiningsih dalam keterangannya, Kamis (23/7).
Ia menegaskan, selama ini DLH Kota Bekasi rutin memonitor dan mengawasi perusahaan di kawasan perbatasan serta sepanjang sempadan Kali Bekasi untuk memastikan kepatuhan pengelolaan lingkungan. Investigasi pun akan terus berjalan hingga dalang pencemaran terungkap.
“Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan langkah tindak lanjut, termasuk koordinasi dengan pemerintah daerah terkait maupun instansi berwenang apabila sumber pencemaran berada di luar wilayah administrasi Kota Bekasi,” lanjut dia.
Melalui kolaborasi bersama KP2C, DLH Kota Bekasi berkomitmen memperketat pengawasan kualitas air dan merespons cepat setiap aduan masyarakat.
Upaya ini dinilai vital untuk menjaga kelestarian Kali Bekasi sebagai sumber daya air strategis bagi masyarakat dan ekosistem setempat. (AK/P-2)

















































