Pelatih timnas Inggris Thomas Tuchel(AFP/JUAN MABROMATA)
HARAPAN timnas Inggris untuk mengakhiri penantian 60 tahun menuju final Piala Dunia sirna dalam hitungan menit. Sempat unggul lebih dulu atas juara bertahan timnas Argentina, The Three Lions akhirnya tumbang 1-2 setelah memilih bermain lebih bertahan pada laga semifinal Piala Dunia 2026 yang digelar di Atlanta, Amerika Serikat, Kamis (16/7) dini hari WIB.
Pasukan Thomas Tuchel sejatinya berada di atas angin setelah Anthony Gordon memecah kebuntuan pada menit ke-55. Gol tersebut sempat membangkitkan asa publik Inggris untuk melihat tim kesayangan mereka tampil di final pertama sejak 1966. Namun, keunggulan tersebut justru menjadi awal dari perubahan pendekatan permainan yang fatal.
Perubahan Taktik yang Menjadi Titik Balik
Alih-alih terus menekan untuk mengunci kemenangan, Inggris memilih menurunkan intensitas serangan dan bermain lebih pasif. Keputusan Tuchel untuk memperkuat lini pertahanan dimulai pada menit ke-72 dengan menarik keluar sang pencetak gol, Anthony Gordon, dan memasukkan bek Ezri Konsa. Perubahan ini membuat Inggris beralih menggunakan formasi lima bek.
Tidak lama berselang, Dan Burn dan Nico O'Reilly juga dimasukkan untuk semakin mempertebal tembok pertahanan. Sebaliknya, dua penyerang, Marcus Rashford dan Ivan Toney, baru diturunkan ketika laga sudah memasuki masa tambahan waktu dan posisi Inggris sudah tertinggal.
Statistik mencatat penurunan drastis performa Inggris setelah unggul. Sejak menit ke-55 hingga kebobolan gol kedua, Harry Kane dan kawan-kawan hanya mencatatkan penguasaan bola sekitar 12%. Ruang yang ditinggalkan Inggris dimanfaatkan sepenuhnya oleh Argentina untuk mengurung pertahanan lawan.
Drama Menit Akhir di Atlanta
Dominasi Argentina akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-85 melalui sepakan Enzo Fernandez yang menyamakan kedudukan. Puncaknya terjadi pada masa injury time menit ke-90+2, saat Lautaro Martinez memastikan kemenangan Albiceleste melalui sundulan tajam memanfaatkan umpan matang dari Lionel Messi.
Statistik Kunci Pertandingan:
- Skor Akhir: Argentina 2-1 Inggris
- Pencetak Gol: Anthony Gordon (55'), Enzo Fernandez (85'), Lautaro Martinez (90+2')
- Penguasaan Bola Inggris (setelah unggul): 12%
Kritik Pedas Wayne Rooney
Mantan kapten Inggris, Wayne Rooney, melontarkan kritik keras terhadap strategi Tuchel. Menurutnya, keputusan untuk bermain bertahan melawan tim sekelas Argentina adalah sebuah kesalahan besar.
"Kami runtuh. Semua berawal dari pelatih dan keputusan yang diambilnya. Kami terlalu pasif. Melawan tim seperti Argentina, juara dunia, Anda tidak akan lolos dengan cara seperti itu. Ini ujian terbesar kami dan kami gagal melewatinya," ujar Rooney kepada BBC.
Rooney menambahkan bahwa perubahan taktik tersebut membuat Inggris kehilangan kendali laga sepenuhnya.
"Fakta bahwa Inggris sudah memimpin lalu justru memberikan kendali permainan kepada Argentina adalah sebuah bencana dari sisi kepelatihan," tegasnya.
Pembelaan Thomas Tuchel
Meski mendapat kritik tajam, Thomas Tuchel menolak anggapan bahwa pergantian pemain menjadi penyebab utama kekalahan timnya. Pelatih berusia 52 tahun itu menilai hasil tersebut adalah bagian dari dinamika sepak bola dan mengaku tidak menyesali keputusannya.
"Tidak. Saya rasa memang begitulah sepak bola. Begitu Anda kalah, kritik pasti datang. Pada saat itu saya tidak menyesal. Tim sudah memberikan segalanya dan kami sangat, sangat dekat dengan final," ujar Tuchel.
Ia tetap memuji performa anak asuhnya yang dianggap telah memberikan penampilan terbaik sepanjang turnamen.
"Dalam situasi yang ada, kami memainkan salah satu pertandingan terbaik. Tim tampil luar biasa, hanya saja kami gagal melewati garis akhir," pungkasnya. (Z-1)


















































