Bio-TCV Vaksin Tifoid Pengembangan Dalam Negeri Diluncurkan

2 hours ago 1
Bio-TCV Vaksin Tifoid Pengembangan Dalam Negeri Diluncurkan (MI/HO)

PT Bio Farma meluncurkan Bio-TCV (typhoid conjugate vaccine), vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri yang menandai tonggak penting dalam penguatan kedaulatan vaksin nasional. Peluncuran ini dilakukan dalam rangkaian Medical Expo FKUI 2026, Jakarta, Kamis (16/7).

Kehadiran Bio-TCV menegaskan kemampuan Indonesia dalam membangun ekosistem vaksin yang komprehensif dari hulu hingga hilir. Proses ini mencakup riset, transfer teknologi, uji klinis, hingga produksi dan strategi perluasan akses masyarakat melalui kolaborasi erat antara industri, akademisi, peneliti, regulator, serta mitra strategis global.

Solusi Strategis Menghadapi Endemis Tifoid

Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menekankan bahwa demam tifoid masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data WHO tahun 2024, terdapat sekitar 9 juta kasus demam tifoid secara global dengan 110 ribu kematian. Di Indonesia sendiri, prevalensi tifoid diperkirakan mencapai 1,6 persen dari populasi.

"Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Vaksin ini merupakan hasil kolaborasi jangka panjang bersama International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010 yang dilanjutkan dengan transfer teknologi pada 2013 serta riset dan uji klinis bersama FKUI," ujar Shadiq Akasya.

Bio-TCV mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan dapat diberikan kepada individu mulai usia enam bulan hingga dewasa. Selain vaksinasi, Shadiq juga mengingatkan pentingnya perbaikan sanitasi dan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) dalam menekan angka kasus.

Kemandirian Kesehatan dan Dukungan Pemerintah

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan bahwa kemandirian dalam penelitian dan produksi produk kesehatan strategis adalah kunci menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, industri, dan akademisi sangat krusial untuk mempercepat inovasi yang berdampak langsung pada masyarakat.

"Kehadiran Bio-TCV menunjukkan bahwa melalui sinergi yang kuat, kita mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional," tegas Benjamin.

Senada dengan hal tersebut, Kepala BPOM Taruna Ikrar memastikan bahwa pihaknya mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV. BPOM melakukan evaluasi regulatori yang dipercepat tanpa mengabaikan standar ilmiah untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin.

Catatan Pengembangan Bio-TCV:

  • 2010: Inisiasi kolaborasi dengan International Vaccine Institute (IVI).
  • 2013: Proses transfer teknologi dimulai.
  • Uji Klinis: Dilaksanakan bersama FKUI-RSCM untuk fase I, II, dan III.
  • Target: Memenuhi kebutuhan domestik dan ekspansi global (WHO Prequalification).

Ekspansi Global dan Ekosistem Danantara

Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma terus meningkatkan kapasitas fasilitas produksi berbasis teknologi konjugasi. Langkah ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga membuka peluang ekspor ke negara-negara dengan beban penyakit tinggi di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Peluncuran Bio-TCV menjadi bukti nyata bahwa kedaulatan vaksin nasional diukur dari penguasaan teknologi dan kemampuan memenuhi standar internasional, guna memastikan masyarakat mendapatkan akses terhadap produk kesehatan yang aman dan berkualitas tinggi. (Ant/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |