Harga Minyak Dunia Turun ke Level sebelum Perang, Stok Global masih Kritis

2 weeks ago 15
Harga Minyak Dunia Turun ke Level sebelum Perang, Stok Global masih Kritis Ilustrasi.(Magnific)

HARGA minyak dunia merosot kembali ke level sebelum perang, seiring dengan pulihnya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz dan diaktifkannya kembali sumur-sumur minyak oleh produsen Teluk. Namun, satu tantangan besar masih membayangi stabilitas ekonomi global: pengisian kembali cadangan minyak dunia yang membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Ketersediaan stok minyak global kini menjadi faktor sentral dalam dinamika kekuatan antara Amerika Serikat dan Iran. Kecepatan negara-negara dalam mengisi kembali penyangga (buffer) minyak mentah mereka akan menentukan seberapa besar kemampuan Iran untuk mengancam ekonomi dunia dengan menyandera Selat Hormuz.

Leverage Negosiasi dan Cadangan Strategis

Wakil Presiden AS JD Vance secara eksplisit menghubungkan penyimpanan minyak dengan daya tawar negosiasi. Dalam wawancara baru-baru ini, ia menyebutkan bahwa nota kesepahaman (MoU) dengan Iran memungkinkan dunia untuk mengisi kembali sebagian stok guna memperkuat posisi tawar di meja perundingan, terutama terkait isu nuklir Tehran.

Kondisi saat ini cukup mengkhawatirkan. Inventaris di negara-negara OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) turun 163 juta barel dari Maret hingga Mei, mencapai level terendah sejak Desember 1990. Meskipun harga minyak saat ini berada di kisaran US$70 per barel dan diprediksi bisa turun ke US$60, proses pengisian cadangan strategis diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Fakta Kunci Stok Minyak:

  • OECD diproyeksikan mulai mengisi cadangan strategis pada kuartal IV 2026.
  • AS baru akan memulai pengisian cadangan (SPR) secara signifikan pada 2027.
  • Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS saat ini berada di level terendah sejak 1983.

Pasokan Melimpah di Tengah Pemulihan Jalur Distribusi

Natasha Kaneva dari JPMorgan mencatat ada lonjakan pasokan minyak yang mengejutkan. "Lonjakan pasokan minyak akan bertabrakan dengan pasar yang, setidaknya untuk saat ini, tidak membutuhkannya," ujarnya. Hal ini didorong oleh beberapa faktor:

  • Pemulihan Selat Hormuz: Lalu lintas tanker kini mencapai 30 hingga 60 kapal per hari. Ekspor minyak mentah melonjak dari 2 juta barel per hari pada Mei menjadi 4.7 juta barel per hari pada Juni.
  • Peningkatan Produksi OPEC+: Aliansi ini sepakat menaikkan output sebesar 188.000 barel per hari pada Agustus mendatang.
  • Peran Produsen Teluk: Emirat Arab menggunakan pipa bypass menuju Fujairah untuk menghindari Selat Hormuz, sementara Kuwait dan Arab Saudi juga berhasil memulihkan volume ekspor lebih cepat dari perkiraan.

Tantangan Pengisian Kembali

Meskipun pasokan melimpah, pengisian kembali cadangan tidak akan terjadi dalam semalam. Hamad Hussain dari Capital Economics memperkirakan butuh waktu 15 hingga 18 bulan untuk mengembalikan SPR Amerika Serikat ke level pra-perang dengan laju pembelian 200.000 barel per hari.

Di sisi lain, Tiongkok yang memiliki cadangan raksasa antara 1 miliar hingga 1,4 miliar barel, tampaknya tidak terburu-buru melakukan pengisian ulang. Data Vortexa menunjukkan impor minyak Tiongkok melalui laut pada Juni hanya mencapai 6 juta barel per hari, jauh di bawah rata-rata tahun sebelumnya.

Meskipun pasar saat ini terlihat tenang, beberapa analis memperingatkan bahwa stabilitas ini mungkin rapuh. Neil Crosby dari Sparta Commodities meragukan bahwa berakhirnya permusuhan akan bersifat permanen. Namun, untuk saat ini, melimpahnya pasokan dan tren penurunan harga memberikan ruang napas bagi ekonomi global, sekaligus memperlemah posisi tawar Iran dalam geopolitik energi. (Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |