Presiden FIFA Gianni Infantino.(AFP/JULIEN DE ROSA)
PRESIDEN FIFA Gianni Infantino memanggil para pemimpin senior badan sepak bola dunia tersebut untuk menghadiri pertemuan darurat di Rabat, Maroko, pada Rabu (5/8) waktu setempat. Langkah ini diambil setelah gelombang kritik tajam menghantam rencana kontroversialnya untuk menjual operasi komersial dan acara FIFA melalui proyek FIFA Forward Enterprise.
Krisis internal ini semakin memanas setelah tokoh-tokoh kunci seperti Arsene Wenger (Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA), Mattias Grafstrom (Sekretaris Jenderal FIFA), hingga Pangeran Ali bin Al Hussein (Presiden Federasi Sepak Bola Yordania) secara terbuka menyatakan penolakan mereka terhadap rencana tersebut.
Arsene Wenger Tuntut Transparansi
Arsene Wenger, yang telah menjabat sejak 2019, mengeluarkan pernyataan tegas melalui FIFA. Mantan manajer Arsenal itu menegaskan bahwa pembatalan rencana investasi tersebut adalah hal yang "mutlak diperlukan dan tidak perlu dipertanyakan lagi".
Wenger mengaku baru mengetahui proyek strategis tersebut melalui laporan media dan tidak dilibatkan dalam penyusunannya.
"Keputusan untuk menarik proyek ini sangat tepat karena saya sangat percaya pada FIFA yang independen, yang melayani permainan kita dengan komitmen, transparansi, dan integritas," ujar Wenger.
Sikap Wenger ini cukup mengejutkan mengingat sebelumnya ia merupakan pendukung rencana Infantino untuk menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali.
Saat ini, Wenger juga termasuk dalam salah satu dari 18 pejabat FIFA yang namanya tercantum dalam surat perlindungan dokumen yang dikirimkan UEFA terkait ancaman tindakan hukum.
Tuduhan "Pemerasan" oleh Pangeran Ali
Kritik paling pedas datang dari Pangeran Ali bin Al Hussein. Ia menuduh kepemimpinan FIFA saat ini telah menciptakan situasi yang menyerupai "pemerasan". Pangeran Ali mengklaim bahwa FIFA sengaja menahan uang hadiah (prize money) yang seharusnya diterima Yordania sebagai runner-up FIFA Arab Cup Desember lalu.
Melalui unggahan di media sosial X, Pangeran Ali mengungkapkan bahwa dirinya sempat diberi tahu secara lisan selama Piala Dunia bahwa dukungan untuk pemilihan kembali Infantino akan sangat membantu federasi sepak bola Yordania.
"Ini jelas masalah kepemimpinan. Kami tidak mendukungnya sebelumnya, dan tentu saja tidak akan mendukungnya sekarang. Situasi ini adalah pemerasan dan kami menolak untuk menyerah," tegasnya.
Selain masalah dana, Pangeran Ali juga menyoroti kendala visa bagi pendukung Yordania yang ingin menyaksikan debut tim mereka di Piala Dunia di Amerika Serikat musim panas ini.
Gejolak Internal di Sekretariat FIFA
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Infantino, turut menyuarakan keprihatinannya. Dalam memo internal kepada staf, Grafstrom menyebut rangkaian peristiwa sepekan terakhir sebagai hal yang "menyedihkan dan tercela".
Meskipun proyek tersebut kini telah resmi dibatalkan secara permanen, Grafstrom mengakui bahwa gejolak yang terjadi sulit untuk dipahami dan diterima oleh jajaran administrasi. Ia berjanji akan melindungi staf FIFA dari konteks politik yang sedang terjadi dan meminta mereka tetap fokus melayani 211 asosiasi anggota.
Hingga saat ini, Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino untuk strategi global, menjadi satu-satunya pejabat yang mengundurkan diri akibat skandal ini. Cordeiro menyebut proposal tersebut sebagai "kesepakatan buruk" yang akan menggadaikan masa depan sepak bola dunia. (bbc/Z-1)

















































